BAB III PENYIMPANAN DAN PEMELIHARAAN ARSIP
Gambar 10. Graphical Abstract
A. Prosedur
Penyimpanan Arsip
1.
Langkah-langkah penyimpanan: memeriksa,
mengindeks, memberi kode, menyortir
Prosedur penyimpanan arsip yang
sistematis merupakan fondasi dari sistem kearsipan yang efektif dalam mendukung
operasional organisasi kesehatan. Menurut Amsyah (2008), langkah-langkah atau
prosedur penyimpanan arsip meliputi pemeriksaan, pengindeksan, penandaan,
penyortiran, dan penyimpanan akhir. Pemeriksaan arsip adalah langkah persiapan menyimpan
arsip dengan cara memeriksa setiap lembar arsip untuk memperoleh kepastian
bahwa arsip-arsip tersebut sudah siap untuk disimpan. Langkah-langkah
penyimpanan arsip terdiri dari penampungan, penelitian, pengindeksan,
pengkodean, penyortiran, dan penyimpanan. Dalam penyimpanan arsip, langkah awal
yang perlu dilakukan yaitu memeriksa arsipnya terlebih dahulu untuk memastikan
arsip tersebut berisi informasi yang faktual dan aktual. Prosedur penyimpanan
arsip yang baik dan benar yaitu memeriksa arsip, mengindeks, menyortir, memberi
kode hingga penyimpanan. Dalam konteks rumah sakit, prosedur penyimpanan yang
sistematis sangat penting untuk memastikan rekam medis dan dokumen
administratif dapat ditemukan dengan cepat saat dibutuhkan untuk pelayanan pasien.
Tahap pengindeksan dan pemberian kode
merupakan langkah krusial yang menentukan efektivitas sistem temu kembali
arsip. Setelah memeriksa arsip, perlu mengindeks arsip tersebut agar dapat
disimpan dengan rapi dan mudah dicari, dimana arsip dapat diindeks menurut
abjadnya. Kemudian harus memberi kode pada arsip yang menjadi tanda dari tempat
penyimpanan arsip tersebut, dimana kode ini berguna ketika ingin mengeluarkan
atau mengembalikan arsip. Pengindeksan adalah menentukan pada kata tangkap (caption)
dari isi surat yang akan dijadikan tanda pengenal dari surat atau arsip yang
bersangkutan. Jika terjadi bahwa surat yang belum ditandai sudah disimpan, maka
pada kasus ini dapat disebut bahwa arsip tersebut dinyatakan hilang.
Pengkodean adalah tahap memberi tanda
(kode) menurut sistem yang dipergunakan, dengan cara memberi tanda garis,
lingkaran atau tanda lainnya pada kata tangkap yang sudah ditentukan pada saat
mengindeks. Masalah penomoran ganda yang menunjukkan pentingnya prosedur
pengindeksan dan pengkodean yang terstandarisasi. Dalam praktik rumah sakit,
sistem pengindeksan dan pengkodean harus terintegrasi dengan sistem informasi
manajemen rumah sakit untuk memastikan akurasi dan mencegah duplikasi.
Tahap penyortiran dan penyimpanan
akhir menentukan kemudahan akses dan keamanan arsip dalam jangka panjang. Penyortiran
adalah mengelompokkan arsip-arsip sesuai dengan kode yang tertera pada
masing-masing arsip untuk memudahkan penyimpanan. Penyimpanan adalah menaruh
atau memasukkan arsip ke dalam tempat penyimpanan (filing) sesuai dengan
sistem penyimpanan yang telah ditentukan. Penyimpanan harus dilakukan dengan
sistem yang telah ditentukan agar mudah ditemukan kembali. Penggunaan sistem
penyimpanan yang optimal akan mempermudah pencarian, pengembalian, dan
mengurangi risiko kehilangan dokumen. Dalam proses pelaksanaan penyimpanan
arsip, memerlukan sistem penyimpanan arsip yang ditetapkan agar dokumen yang
diarsipkan dapat tertata dan mudah dicari jika dibutuhkan. Sistem penyimpanan
manual yang konvensional menimbulkan permasalahan seperti arsip yang hilang dan
susahnya menemukan kembali arsip. Dalam konteks rumah sakit, prosedur
penyimpanan yang terstandarisasi harus mengikuti standar prosedur operasional (SPO)
yang telah ditetapkan untuk memastikan konsistensi dan kualitas pengelolaan
arsip sesuai persyaratan akreditasi.
1.
Persiapan arsip: mengecek kelengkapan
fisik dan berkas
Persiapan arsip melalui pengecekan
kelengkapan fisik dan berkas merupakan tahap fundamental untuk memastikan
integritas dokumen sebelum disimpan secara permanen. Menurut Sukismo (2022),
perencanaan pemeliharaan arsip meliputi menyiapkan peralatan seperti map dan
pembatas plastik untuk menyimpan arsip agar aman secara fisik dan informasi.
Pengorganisasian meliputi pemberkasan arsip aktif yang dimulai dengan
identifikasi dari kepala tata usaha, yaitu menerima arsip yang masuk dan
membaginya ke setiap unit pengolah berdasarkan jenis arsip aktif. Kemenkeu
(2020) menambahkan bahwa pemeriksaan kelengkapan arsip dilakukan dengan melihat
lembar disposisi dan lampiran arsip untuk memastikan tidak ada dokumen yang
terlewat. Prosedur pengolahan arsip harus dimulai dengan pengecekan kelengkapan
fisik dokumen. Surat yang belum siap disimpan harus dimintakan dahulu
kejelasannya kepada yang berhak. Pembinaan dan dokumentasi yang baik dimulai
dari persiapan arsip yang lengkap. Dalam konteks rumah sakit, pengecekan
kelengkapan rekam medis sangat krusial untuk memastikan kontinuitas pelayanan
dan memenuhi persyaratan legal serta akreditasi.
Proses pengecekan kelengkapan fisik
arsip memerlukan prosedur yang detail dan checklist yang terstandarisasi untuk
menghindari kehilangan informasi penting. Contohnya di rumah sakit, Standar
Prosedur Operasional (SPO) penyimpanan rekam medis harus memastikan kelengkapan
dokumen sesuai dengan unsur 4M (Man, Method, Machine, dan Material).
Sukismo (2022) menambahkan bahwa pemeriksaan kelengkapan arsip dilakukan dengan
mengecek lembar disposisi, surat utama, dan semua lampiran yang menyertainya. Langkah
awal penyimpanan arsip adalah memeriksa untuk memastikan arsip tersebut berisi
informasi yang faktual dan aktual dengan cara meminta penjelasan dari pihak
yang membuat arsip. Pemeriksaan arsip bertujuan memperoleh kepastian bahwa
arsip-arsip tersebut sudah siap untuk disimpan. Proses persiapan akreditasi
kearsipan menekankan pada kelengkapan dokumentasi dan pemberkasan yang
sistematis. Pemeliharaan arsip dilakukan untuk menjamin bahwa arsip disimpan di
tempat yang baik dan aman dengan fasilitas yang lengkap. Dalam praktik di rumah
sakit, checklist kelengkapan rekam medis harus mencakup lembar masuk,
anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, catatan perawat, resume
medis, dan informed consent untuk memastikan tidak ada dokumen yang terlewat.
Dokumentasi hasil pengecekan
kelengkapan arsip menjadi bukti akuntabilitas dan mendukung sistem quality
assurance dalam pengelolaan arsip. Pelaksanaan SPO penyimpanan rekam medis
dilihat dari unsur Man, Method, Machine, dan Material yang
mempengaruhi kelengkapan dokumentasi. Sukismo (2022) menjelaskan bahwa
persiapan lokasi penyimpanan arsip dengan menentukan posisi rak yang berdekatan
dengan unit pengolah yang bersangkutan memudahkan pengecekan kelengkapan. Dokumentasi
yang lengkap dan terstruktur menjadi salah satu kriteria penting dalam
akreditasi kearsipan. Arsip dapat diakses selama diperlukan jika disimpan
dengan kelengkapan yang terjamin. Pencatatan arsip yang tidak lengkap dapat
menyebabkan kesulitan dalam penemuan kembali. Arsip yang tidak lengkap akan
menyulitkan dalam penggunaan dan penemuan kembali di masa mendatang. Dalam
konteks rumah sakit modern, sistem informasi manajemen rumah sakit harus
dilengkapi dengan fitur validasi kelengkapan dokumen elektronik yang terintegrasi
dengan proses bisnis untuk memastikan tidak ada tahapan yang terlewat sebelum
rekam medis dipindahkan ke penyimpanan permanen.
2.
Teknik penyusunan arsip dalam folder dan
box arsip
Teknik penyusunan arsip dalam folder
dan box arsip merupakan aspek praktis yang menentukan efisiensi ruang penyimpanan
dan kemudahan akses terhadap dokumen. Terdapat beberapa metode penyimpanan
arsip yaitu horizontal filling (flat filling) yang melibatkan penempatan
dokumen dalam stopmap dan disusun secara horizontal dimulai dari bagian bawah
ke atas. Lateral filling adalah metode penyimpanan arsip di mana dokumen
dimasukkan dalam snelhecter dan brief ordner, lalu diletakkan berdiri dengan
bagian punggung folder di bagian depan. Lateral filing merupakan metode
penyimpanan arsip di mana dokumen dimasukkan ke dalam brief ordner dan
snelhecter yang diletakkan dalam keadaan berdiri. Sukismo (2022) menambahkan
bahwa penyiapan peralatan seperti map dan pembatas plastik untuk menyimpan
arsip agar aman secara fisik dan informasi merupakan bagian dari perencanaan
pemeliharaan arsip. Teknik penyusunan arsip yang tepat dapat mencegah kerusakan
fisik dokumen. Sistem pengkodean warna yang jelas pada folder dapat
meningkatkan efisiensi maksimal dalam penyusunan arsip. Dalam konteks rumah
sakit, teknik penyusunan rekam medis dalam folder harus mempertimbangkan
frekuensi akses, volume dokumen, dan kebutuhan ruang penyimpanan yang terbatas.
Implementasi teknik penyusunan arsip
yang efektif memerlukan pemahaman tentang karakteristik dokumen dan sistem
klasifikasi yang digunakan. Penyusunan flat filling memerlukan kehati-hatian
saat mengambil dokumen, sebaiknya dokumen yang berada di bagian bawah diambil
terlebih dahulu agar tumpukan di atasnya tetap rapi. Pemilihan metode
penyimpanan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu atau perusahaan. Untuk
memastikan penyimpanan dokumen berjalan lancar dan sesuai standar, penting
untuk mengikuti prosedur penyimpanan arsip yang ditetapkan. Sukismo (2022)
menjelaskan bahwa perencanaan lokasi penyimpanan arsip dengan menentukan posisi
rak yang berdekatan dengan unit pengolah yang bersangkutan memudahkan akses.
Kemenkeu (2020) menegaskan bahwa arsip disusun dalam folder berdasarkan pola
klasifikasi tertentu untuk memudahkan penemuan kembali. Penjilidan dan
pembuatan kotak pembungkus arsip (portepel) dapat dilakukan untuk menghindari
kerusakan. Dalam praktik di rumah sakit, rekam medis pasien biasanya disusun
dalam folder warna-warni berdasarkan kategori pasien (umum, BPJS, asuransi) dan
disimpan dalam rak filing dengan sistem nomor terminal digit untuk memudahkan
distribusi beban kerja dan mempercepat pencarian.
Penggunaan box arsip untuk penyimpanan jangka panjang memerlukan standarisasi ukuran dan labeling yang jelas untuk memfasilitasi manajemen ruang penyimpanan. Ejournal2 Undip (2021) dalam penelitiannya tentang perencanaan desain tata ruang arsip menjelaskan bahwa arsip statis disimpan secara permanen dengan menggunakan box arsip yang terstandarisasi. Sukismo (2022) menambahkan bahwa penggunaan map dan pembatas plastik membantu menyimpan arsip agar aman secara fisik dan informasi. Pembuatan kotak pembungkus arsip (portepel) dapat melindungi dokumen dari kerusakan akibat faktor lingkungan. Penggunaan sistem penyimpanan yang optimal akan mempermudah pencarian, pengembalian, dan mengurangi risiko kehilangan dokumen. Setiap badan layanan masyarakat menerapkan strategi berbeda dalam penyusunan arsip untuk persiapan akreditasi, namun semua menekankan pada sistem yang terorganisir. Tingkat kerusakan arsip bergantung pada tindakan pelestarian yang diterapkan termasuk cara penyusunan dan penyimpanan. Dalam konteks rumah sakit, box arsip untuk rekam medis inaktif harus diberi label yang mencantumkan rentang nomor rekam medis, periode waktu, dan lokasi penyimpanan di record center, serta dilengkapi dengan barcode untuk memfasilitasi tracking dan retrieval saat diperlukan untuk keperluan audit, penelitian, atau medikolegal.

Comments
Post a Comment