2. D. Sarana dan Peralatan Pengorganisasian
Gambar 9. Peralatan esensian untuk pengorganisasian
Arsip
1.
Guide (sekat) sebagai batas atau petunjuk
antar kelompok arsip
Guide atau sekat arsip merupakan
komponen fundamental dalam sistem pengorganisasian arsip yang berfungsi sebagai
penunjuk dan pemisah antara kelompok arsip berdasarkan klasifikasi tertentu. Guide
adalah lembaran kertas tebal atau karton yang digunakan sebagai penunjuk dan
atau sekat/pemisah dalam penyimpanan arsip yang terdiri dari dua bagian yaitu
tab guide (bagian yang menonjol untuk menuliskan kode-kode, tanda-tanda, atau
indeks) dan badan guide (berfungsi untuk menopang arsip-arsip yang ada di
belakangnya). Lembar guide adalah penyekat untuk mengelompokkan berkas arsip
dalam rangka penataan berkas berdasarkan alfabetis, nomor, subyek dan
kronologis. Filling cabinet sekat arsip guide merupakan peralatan kearsipan
yang esensial untuk pengorganisasian dokumen. Guide primer adalah guide yang
dipergunakan sebagai tanda pemisah antara pokok masalah atau kelompok arsip. Alat
maupun fasilitas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan arsip rekam medis
adalah dengan menggunakan rak terbuka serta menggunakan magazine filling box.
Dalam konteks rumah sakit, penggunaan guide yang terstandarisasi sangat penting
untuk memfasilitasi rapid retrieval rekam medis dalam situasi emergency dan
memastikan tidak terjadi missfiling.
Klasifikasi guide berdasarkan
hierarki fungsinya memungkinkan pengelompokan arsip secara sistematis dan mudah
dinavigasi. Guide yang umumnya dipakai sampai level 3 terdiri dari guide primer
(warna putih) yang berisi pokok masalah yaitu bagian utama dalam file, guide
sekunder (warna hijau) yang berisi sub masalah yaitu bagian yang menunjukkan
pada suatu kelompok yang mempunyai persamaan indeks menunjuk urusan kegiatan
masalah khusus, dan guide tersier (warna merah) yang berisi sub-sub masalah
yaitu bagian yang menunjukkan pada suatu kelompok yang mempunyai persamaan
indeks menunjukkan urusan subkegiatan submasalah khusus. Setelah guide tersier
baru diletakkan folder arsip berwarna biru muda yang berisi berkas/himpunan
surat aktif yang sudah close yang disusun atas dasar kesamaan urusan/kesamaan
masalah/kesamaan jenis. Guide arsip/sekat arsip merupakan peralatan kearsipan
terlaris yang tersedia dalam berbagai ukuran. Guide arsip terdiri dari primer
(putih), sekunder (hijau) dan tersier (merah) dengan minimal pembelian 100 unit
untuk standarisasi. Posisi tab guide dapat diatur penempatannya dimana guide
pertama terletak pada posisi sebelah kiri untuk menuliskan kelompok utama (main
subject), guide kedua terletak pada posisi atas bagian tengah untuk
menuliskan kelompok sekunder (sub subject), dan guide ketiga terletak
pada posisi atas sebelah kanan untuk menuliskan kelompok tersier (sub-sub
subject). Contoh penggunaan seperti penyekat primer bertuliskan "800
KEPEGAWAIAN", penyekat sekunder bertuliskan "850 MUTASI", dan
penyekat tersier bertuliskan "851 CUTI TAHUNAN". Dalam praktik di
rumah sakit, sistem guide tiga level ini dapat diadaptasi misalnya level 1
untuk jenis layanan (rawat jalan, rawat inap, IGD), level 2 untuk poliklinik
atau ruang perawatan, dan level 3 untuk kategori diagnosis atau rentang nomor
rekam medis.
Spesifikasi teknis dan penempatan
guide harus disesuaikan dengan sistem penyimpanan dan ukuran arsip yang
dikelola. Guide ditempatkan di depan folder jika penyimpanan arsip menggunakan filing
cabinet, atau dapat juga di depan arsip jika penyimpanan menggunakan ordner
atau map snelhecter. Guide dapat dibuat dengan berbagai ukuran disesuaikan
dengan bentuk arsip dimana jika arsip berupa surat-surat dengan menggunakan
kertas ukuran folio atau A4, maka badan guide dibuat sesuai ukuran arsip yang
disimpan, tetapi jika arsip ukurannya kecil maka guide juga kecil. Guide
arsip/sekat arsip dokumen merupakan peralatan kearsipan yang dapat disesuaikan
dengan kebutuhan organisasi. Filling cabinet sekat arsip tersedia dalam
berbagai spesifikasi untuk berbagai jenis dokumen. Klasifikasi rumah sakit
berdasarkan Permenkes No 3 Tahun 2020 mempengaruhi volume dan sistem
pengorganisasian arsip yang harus disesuaikan. Pengelolaan arsip rekam medis
pada instalasi rawat jalan masih belum menggunakan identifikasi warna serta map
dalam penyimpanan rekam medis pasien yang berbahaya untuk data informasi
pasien. Dalam konteks rumah sakit modern, spesifikasi guide harus
mempertimbangkan standar ukuran rekam medis (biasanya folio atau A4), material
yang tahan lama (karton tebal atau plastik), colour coding yang konsisten
dengan sistem klasifikasi, dan tab yang cukup besar untuk menampilkan kode
dengan jelas untuk memfasilitasi quick identification terutama saat peak hours
di unit rekam medis.
Pemeliharaan dan penggantian guide
secara berkala memastikan sistem pengorganisasian arsip tetap efektif dan
mendukung efisiensi operasional. Warna penyekat bebas saja tergantung keinginan
namun perlu konsistensi untuk menghindari kebingungan. Guide primer, sekunder
dan tersier harus digunakan secara sistematis untuk memudahkan navigasi. Dengan
stok yang mencapai 10 ribu unit menunjukkan kebutuhan guide yang tinggi di
berbagai organisasi. Kendala dalam pengelolaan arsip rekam medis mencakup
sumber daya manusia yang masih kurang dan terdapat kesalahan dalam pengembalian
rekam medis. Pengelolaan arsip yang dilakukan masih belum optimal dengan
terdapat perbedaan penyimpanan dan pemberkasan arsip rekam medis. Dalam praktik
di rumah sakit, program pemeliharaan guide harus mencakup inspeksi rutin untuk
mengidentifikasi guide yang rusak atau pudar, penggantian guide yang sudah
tidak terbaca dengan jelas, standardisasi pengadaan guide dari supplier yang
sama untuk konsistensi warna dan ukuran, pelatihan petugas tentang proper use
of guides, dan dokumentasi lokasi setiap guide dalam sistem inventory untuk
memudahkan stock management dan budgeting.
2.
Folder untuk penempatan arsip sesuai
klasifikasi
Folder arsip merupakan alat untuk
menempatkan atau meletakkan arsip aktif yang berisi berkas/himpunan dokumen
yang disusun atas dasar kesamaan urusan, kesamaan masalah, atau kesamaan jenis
untuk melindungi dokumen dan memudahkan handling. Folder adalah alat untuk
menempatkan/meletakkan arsip aktif yang berisi berkas/himpunan surat aktif yang
sudah close yang disusun atas dasar kesamaan urusan/kesamaan masalah/kesamaan
jenis, folder biasanya berwarna biru muda. Sistem penyimpanan rekam medis dapat
berupa sistem manual yang biasanya menggunakan dokumen kertas dengan folder
sebagai penampung. Folder diletakkan setelah guide tersier dalam sistem filing
dengan contoh folder seperti "851 Cuti Tahunan Th 2012" atau
"090 Perjalanan Dinas a.n. Budi ke Makassar 2013". Dalam konteks
rumah sakit, penggunaan folder yang terstandarisasi sangat penting untuk
melindungi rekam medis dari kerusakan fisik, memudahkan identifikasi cepat
melalui colour coding, dan memastikan kontinuitas pelayanan pasien.
Spesifikasi dan jenis folder harus
disesuaikan dengan karakteristik arsip dan sistem filing yang digunakan oleh
rumah sakit. Folder ditempatkan setelah guide tersier dan dapat diorganisir
berdasarkan tahun atau nama untuk memudahkan retrieval. Pedoman Penyelenggaraan
Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia tahun 2006 menyatakan bahwa rekam
medis sudah seharusnya diberi sampul pelindung untuk memelihara keutuhan
susunan lembaran yang ada pada rekam medis dan mencegah berkas rekam medis
terlepas atau tersobeknya lembaran akibat sering dibolak-balik. Perbedaan
sistem antara rawat inap dan rawat jalan menunjukkan inkonsistensi yang perlu
diperbaiki. Sistem nomor akhir (terminal digit filing system) merupakan
penyimpanan yang menggunakan nomor dengan enam angka yang dikelompokkan menjadi
tiga kelompok masing-masing terdiri dari dua angka yang mempengaruhi desain
folder. Kode klasifikasi arsip di Kementerian Kesehatan menggunakan sistem
numerik yang dapat diadaptasi untuk folder rekam medis. Dalam praktik di rumah
sakit, jenis folder yang umum digunakan meliputi folder dengan fastener (untuk
mengikat dokumen dengan aman), folder dengan tab untuk colour coding (merah
untuk BPJS, hijau untuk umum, biru untuk asuransi), folder tahan lama dari
bahan manila atau plastik, folder dengan label area yang jelas untuk menulis
nomor rekam medis dan nama pasien, dan folder dengan ekspansi untuk menampung
rekam medis yang tebal.
Sistem colour coding pada folder
merupakan strategi visual yang efektif untuk mempercepat identifikasi dan
mengurangi tingkat missfiling dalam pengelolaan arsip. Hal ini sangat berbeda
dengan pemeliharaan berkas rekam medis di instalasi rawat inap, yang mana
berkas rekam medis dilindungi oleh map yang kemudian diletakkan pada
penyimpanan roll opac yang bisa dikunci sebagai keamanannya. Perbedaan
penyimpanan dan pemberkasan arsip rekam medis pada instalasi rawat jalan dan
rawat inap menunjukkan ketidakkonsistenan sistem. Penyimpanan rekam medis harus
mampu menjamin keamanan, keutuhan, kerahasiaan, dan ketersediaan data rekam
medis. Warna folder bebas saja tergantung keinginan namun konsistensi penting
untuk sistem yang efektif. Perancangan sistem penyimpanan yang baik
meningkatkan efisiensi kerja bagian SDM. Sistem arsip pada BPJS Kesehatan
memerlukan pengorganisasian yang sistematis. Dalam praktik di rumah sakit,
colour coding dapat diimplementasikan dengan berbagai skema: berdasarkan jenis
pasien (BPJS/umum/asuransi), berdasarkan status aktif/inaktif, berdasarkan
terminal digit (misalnya 00-09 merah, 10-19 biru, dst), berdasarkan tahun
kunjungan terakhir, atau kombinasi dari beberapa kriteria untuk memfasilitasi
quick visual scanning dan mengurangi filing errors terutama saat volume rekam
medis sangat tinggi.
Pemeliharaan folder dan prosedur
penggantian yang sistematis memastikan perlindungan optimal terhadap rekam
medis dan mendukung kepatuhan terhadap regulasi. Hal ini karena berkas rawat
jalan masih sering keluar (dipinjam) saat pasien datang lagi untuk berobat dan
juga jika menggunakan map, ruang penyimpanan akan diubah serta karena
pendistribusian rawat jalan menggunakan tabung, jadi jika menggunakan map berkas
tersebut tidak bisa masuk karena tidak akan muat. Namun ini tidak selaras
dengan standar yang menyatakan bahwa PERMENKES Nomor 269 tahun 2008 tentang
Rekam Medis Pasal 14 tertulis bahwa pimpinan sarana pelayanan kesehatan
bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan atau penggunaan oleh orang atau
badan yang tidak berhak terhadap rekam medis. Dengan menggunakan layanan cloud
rekam medis, organisasi dapat menekan biaya infrastruktur dan perawatannya
tanpa khawatir data akan hilang dan rusak. Prosedur pengarsipan data personal
pegawai memerlukan sistem yang terstandarisasi. Penggunaan media pembelajaran
pada program keahlian administrasi perkantoran meningkatkan pemahaman tentang
kearsipan. Dalam konteks rumah sakit modern, program pemeliharaan folder harus
mencakup inspeksi berkala untuk mengidentifikasi folder yang rusak (sobek,
fastener lepas, label tidak terbaca), prosedur transfer dokumen dari folder
lama ke folder baru tanpa kehilangan halaman, standardisasi pengadaan folder
untuk konsistensi sistem colour coding, training petugas tentang proper folder
handling untuk meminimalkan kerusakan, dan dokumentasi semua penggantian folder
dalam sistem untuk audit trail dan budgeting.
3.
Filing cabinet dan rak arsip
Filing cabinet dan rak arsip merupakan sarana
penyimpanan fisik yang fundamental dalam sistem manajemen arsip untuk
melindungi dokumen dari kerusakan dan memfasilitasi akses yang efisien. Alat
maupun fasilitas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan arsip rekam medis di
RS adalah dengan menggunakan rak terbuka serta menggunakan magazine filling
box. Pada arsip rekam medis rawat inap, penyimpanan rekam medis setidaknya
menggunakan roll opac, sedangkan arsip rekam medis rawat jalan menggunakan rak
biasa yang hanya dipisahkan oleh box arsip. Guide ditempatkan di depan folder
jika penyimpanan arsip menggunakan filing cabinet atau dapat juga di depan
arsip jika penyimpanan menggunakan ordner atau map snelhecter. Filling cabinet
sekat arsip merupakan peralatan kearsipan yang tersedia di pasaran. Sistem
penyimpanan rekam medis manual biasanya menggunakan dokumen kertas dengan
filing cabinet sebagai sarana penyimpanan. Dalam konteks rumah sakit, pemilihan
antara filing cabinet tertutup atau rak terbuka harus mempertimbangkan faktor
keamanan, accessibility, volume rekam medis, ruang available, dan budget untuk
memastikan sistem penyimpanan yang optimal.
Jenis dan spesifikasi filing cabinet serta rak arsip
harus disesuaikan dengan karakteristik rekam medis dan sistem filing yang
diimplementasikan. Sistem nomor tengah (middle digit filing system)
mempengaruhi layout filing cabinet yang dibutuhkan. Klasifikasi arsip
berdasarkan pola tertentu mempengaruhi desain penyimpanan. Semantic Penggunaan
tunjuk silang pada arsip dinamis aktif memerlukan sistem filing yang mendukung cross-reference.
Sistem informasi dan kearsipan memerlukan integrasi antara penyimpanan fisik
dan digital. Dalam praktik di rumah sakit, jenis filing cabinet dan rak yang
umum digunakan meliputi lateral filing cabinet (hemat ruang, akses dari
samping), vertical filing cabinet (akses dari depan, untuk volume
sedang), mobile aisle system atau compactus (untuk ruang terbatas
dengan volume besar), open shelf filing (untuk akses cepat rekam medis
aktif), roll opac atau rotary filing (untuk optimalisasi ruang
dan keamanan), dan static shelving dengan guide (untuk arsip
inaktif di record center).
Kapasitas dan layout filing cabinet
harus direncanakan dengan mempertimbangkan volume arsip saat ini dan proyeksi
pertumbuhan untuk menghindari overcapacity. Pada instalasi rawat jalan, berkas
rekam medis tidak dilindungi oleh map ataupun sampul karena berkas rawat jalan
masih sering keluar (dipinjam) saat pasien datang lagi untuk berobat dan juga
jika menggunakan map ruang penyimpanan akan diubah serta pendistribusian rawat
jalan menggunakan tabung sehingga jika menggunakan map berkas tersebut tidak
bisa masuk karena tidak akan muat. Perbedaan penyimpanan dan pemberkasan arsip
rekam medis pada instalasi rawat jalan dan rawat inap menunjukkan
ketidakkonsistenan yang perlu diperbaiki. Dengan menggunakan layanan cloud
rekam medis dapat menekan biaya infrastruktur termasuk ruangan, rak, serta ATK
seperti kertas dan pulpen untuk mencatat rekam medis pasien. Perancangan sistem
penyimpanan arsip di bagian SDM harus mempertimbangkan efisiensi ruang. Sistem
arsip pada BPJS Kesehatan memerlukan kapasitas yang adequate untuk volume yang
besar. Prosedur pengarsipan data personal pegawai memerlukan filing cabinet
yang memadai. Dalam konteks rumah sakit, perhitungan kapasitas filing harus
mempertimbangkan volume rekam medis saat ini, growth rate tahunan
(biasanya 5-10% untuk rumah sakit), periode retensi arsip aktif (5 tahun),
ketebalan rata-rata folder rekam medis, dan buffer capacity (minimal 20%) untuk
fluktuasi, serta layout yang memfasilitasi terminal digit filing system
untuk distribusi beban kerja yang merata.
Pemeliharaan filing cabinet dan rak arsip serta
pertimbangan ergonomi memastikan keamanan petugas dan preservasi arsip jangka
panjang. Kendala-kendala dalam melakukan pengelolaan arsip rekam medis yaitu
sumber daya manusia yang masih kurang, terdapat kesalahan dalam pengembalian
rekam medis, dan jaringan dalam mengakses data informasi pasien yang terkadang
error. Media penyimpanan berbasis digital dapat dilakukan melalui server,
sistem komputasi awan (cloud computing), dan media penyimpanan berbasis
digital lain berdasarkan perkembangan teknologi.
Badan guide berfungsi untuk menopang arsip-arsip yang
ada di belakangnya menunjukkan pentingnya struktur filing yang kokoh. Penggunaan
media pembelajaran oleh guru pada program keahlian administrasi perkantoran
meningkatkan pemahaman tentang proper filing. Penggunaan tunjuk silang pada
arsip dinamis aktif memerlukan maintenance yang rutin. Dalam praktik di rumah
sakit modern, program pemeliharaan filing cabinet harus mencakup inspeksi rutin
struktur (karat, kerusakan, roda macet pada mobile aisle), pembersihan
berkala untuk mencegah akumulasi debu, pelumasan rel dan engsel untuk smooth
operation, pengecekan sistem locking untuk keamanan, pertimbangan ergonomi
seperti tinggi rak maksimal 200 cm untuk menghindari over-reaching injury, dan
training petugas tentang safe filing practices termasuk proper lifting
techniques untuk mencegah musculoskeletal disorders.

Comments
Post a Comment