BAB VIII DIGITAL LEADERSHIP DAN KOMPETENSI MANAJER KESEHATAN DI ERA DIGITAL


 

Capaian Pembelajaran

Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:

þ  Menjelaskan konsep kepemimpinan digital dan urgensinya dalam konteks transformasi organisasi layanan kesehatan

þ  Mengidentifikasi kompetensi inti yang diperlukan oleh manajer kesehatan di era digitalisasi, mencakup dimensi teknis, manajerial, kepemimpinan, dan interpersonal

þ  Menganalisis Kerangka Kompetensi Kesehatan Digital WHO serta standar nasional Indonesia sebagai acuan pengembangan tenaga manajerial kesehatan

þ  Menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan etis dalam konteks pemanfaatan teknologi dan pengelolaan data kesehatan

þ  Merancang rencana pengembangan diri yang terstruktur untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan digital secara berkelanjutan

þ  Mengevaluasi kesiapan diri dan organisasi dalam menghadapi tuntutan transformasi digital layanan kesehatan di Indonesia

 

A.        KOMPETENSI DIGITAL LEADERSHIP


Strategic Thinking dalam Era Digital

Pemikiran strategis di era digital berbeda secara mendasar dari pemikiran strategis tradisional karena mencakup pemahaman tentang kemungkinan-kemungkinan teknologi, analitik data, dan dinamika lingkungan yang berubah dengan sangat cepat. Para pemimpin kesehatan modern harus memiliki sejumlah kapabilitas inti yang tidak dapat diabaikan.

þ  Memahami Lanskap Digital. Pemimpin kesehatan masa kini perlu memahami teknologi-teknologi yang tengah berkembang seperti kecerdasan buatan, komputasi awan, Internet Segala Sesuatu, dan rantai blok (blockchain) serta bagaimana teknologi-teknologi tersebut dapat diterapkan dalam layanan kesehatan (Car et al., 2025). Ini bukan berarti harus menjadi pakar teknis, melainkan memiliki literasi digital yang memadai untuk berinteraksi secara produktif dengan tim teknis dan memahami implikasinya bagi organisasi.

þ  Menyeimbangkan Inovasi dengan Risiko. Teknologi digital membuka peluang-peluang baru, tetapi sekaligus memperkenalkan risiko-risiko yang tidak boleh diabaikan. Ancaman keamanan siber, isu privasi data, dan potensi dampak yang tidak diinginkan terhadap keselamatan pasien. Para pemimpin strategis di bidang kesehatan harus mampu menavigasi keseimbangan ini melalui asesmen risiko yang cermat dan strategi mitigasi yang terencana dengan baik.

þ  Berpikir dalam Perspektif Ekosistem. Layanan kesehatan kini semakin beroperasi dalam ekosistem yang melibatkan banyak pemangku kepentingan seperti rumah sakit, penyedia layanan primer, perusahaan asuransi, perusahaan teknologi, pasien, dan regulator. Para pemimpin harus memahami keterkaitan dan saling ketergantungan di antara elemen-elemen ini, serta mengembangkan strategi yang mengoptimalkan keseluruhan ekosistem, bukan sekadar organisasi mereka sendiri.

þ  Orientasi ke Masa Depan. Transformasi digital bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan yang berkesinambungan. Para pemimpin strategis harus mampu mengantisipasi tren masa depan misalnya populasi yang menua, meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan memposisikan organisasi mereka untuk berkembang dalam berbagai skenario masa depan yang mungkin terjadi.

Kerangka DECODE yang dikembangkan Car et al. (2025) mengidentifikasi pemikiran strategis sebagai salah satu dari 19 kompetensi inti yang esensial bagi para profesional medis di era digital, yang tergabung dalam empat domain utama: Profesionalisme Kesehatan Digital, Kesehatan Pasien dan Populasi Digital, Sistem Informasi Kesehatan, dan Ilmu Data Kesehatan.

 

Digital Literacy dan Technology Understanding

Literasi digital dalam konteks kepemimpinan kesehatan mencakup lebih dari sekadar kemampuan menggunakan alat komputer dasar. Tinjauan sistematis terhadap kompetensi digital para pemimpin layanan kesehatan mengidentifikasi bahwa keberhasilan transformasi digital mensyaratkan pemimpin yang dapat: memahami konsep fundamental teknologi (komputasi awan, analitik data, keamanan siber, interoperabilitas); menginterpretasikan data dan hasil analitik dari dashboard dan metrik; memahami model bisnis digital dalam layanan kesehatan; dan selalu mengikuti perkembangan tren teknologi terkini (Lahti et al., 2024). Literasi digital dapat dikembangkan melalui berbagai jalur yang saling melengkapi:

þ  Program pelatihan formal dan sertifikasi dalam kesehatan digital

þ  Partisipasi dalam konferensi dan seminar daring teknologi kesehatan

þ  Pendampingan dari individu-individu yang memiliki keahlian teknis lebih mendalam

þ  Eksperimentasi langsung dengan berbagai teknologi baru

þ  Kajian rutin terhadap publikasi industri dan artikel penelitian terkini

 

Data-Driven Decision Making (Pengambilan Keputusan Berbasis Data)

Pengambilan keputusan berbasis data merupakan landasan utama kepemimpinan digital. Dalam konteks layanan kesehatan, ini bermakna:

þ  Membangun infrastruktur data yang kokoh. Memastikan bahwa data dikumpulkan secara konsisten, disimpan dengan aman, dan dapat diakses untuk keperluan analisis oleh pihak-pihak yang berwenang.

þ  Mengembangkan kapabilitas analitik. Membangun kemampuan analisis data secara internal atau menjalin kemitraan dengan pakar eksternal yang kompeten di bidangnya.

þ  Mengambil keputusan berdasarkan bukti. Ketika keputusan-keputusan penting hendak diambil, landasannya adalah analisis data dan bukti yang tersedia, bukan semata intuisi atau pengalaman masa lalu.

þ  Mengkomunikasikan wawasan data secara efektif. Mampu menerjemahkan analisis data yang kompleks menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti dan dipahami oleh berbagai pemangku kepentingan dengan latar belakang yang beragam.

Namun demikian, pengambilan keputusan berbasis data tidak berarti mengabaikan penilaian manusia dan pemahaman kontekstual yang mendalam. Para pemimpin terbaik mengintegrasikan wawasan data dengan keahlian klinis, pengetahuan organisasional, dan pertimbangan yang berpijak pada nilai-nilai luhur profesi kesehatan. Penelitian tentang kepemimpinan masa depan dalam layanan kesehatan digital menegaskan bahwa pemimpin yang efektif diharapkan menguasai penggunaan teknologi dan memahami teknologi yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari para profesional di bawah koordinasinya, karena hal ini membantu mereka dalam mendukung pemecahan masalah (PMC, 2025).

 

Change Leadership dan Pola Pikir Inovatif

Para pemimpin tidak hanya harus beradaptasi terhadap perubahan, melainkan secara aktif mendorong inovasi dalam organisasi mereka. Pola pikir inovatif mencakup tiga dimensi yang saling berkaitan:

þ  Keterbukaan terhadap gagasan baru: Menciptakan lingkungan kerja di mana para staf merasa nyaman untuk mengusulkan gagasan dan bereksperimen tanpa rasa takut akan kegagalan

þ  Toleransi terhadap kegagalan yang bermakna: Memahami bahwa inovasi melibatkan eksperimentasi, dan sebagian eksperimen memang tidak akan berhasil, tetapi setiap kegagalan mengandung pelajaran berharga

þ  Pemikiran kewirausahaan: Memikirkan cara-cara baru untuk memberikan pelayanan, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan nilai tambah bagi pasien dan organisasi

Kajian terhadap pengelolaan berbagi kompetensi digital di organisasi kesehatan menunjukkan bahwa dukungan manajemen merupakan faktor yang sangat signifikan dalam mendorong berbagi kompetensi digital di antara profesional kesehatan, dan pengelolaan ini mensyaratkan komitmen terhadap pelatihan berkelanjutan serta penciptaan budaya kolaboratif yang mendukung pembelajaran bersama lintas generasi (Nurmeksela et al., 2024).

 



B.        KOMPETENSI SPESIFIK MANAJER KESEHATAN


 

Tabel 8.1. Kategori Kompetensi

Kategori Kompetensi

Kompetensi Spesifik

Indikator Kecakapan

Penerapan dalam Digitalisasi

Teknis

Sistem RME/SIMRS

Mampu menggunakan sistem dan memahami alur data

Memastikan mutu entri data, mengoptimalkan penggunaan sistem

Alat analitik

Mampu menginterpretasikan dashboard, membuat laporan

Memantau indikator kinerja utama, mengambil keputusan berbasis data

Dasar-dasar keamanan siber

Memahami ancaman, mematuhi protokol keamanan

Melindungi data pasien, memastikan kepatuhan regulasi

Manajerial

Manajemen proyek

Merencanakan, melaksanakan, memantau proyek

Memimpin proyek digital secara efektif

Alokasi sumber daya

Perencanaan anggaran, manajemen tenaga

Mengalokasikan sumber daya untuk inisiatif digital

Optimasi proses

Mengidentifikasi hambatan, merancang ulang alur kerja

Mengoptimalkan alur kerja klinis dan administratif

Kepemimpinan

Penetapan visi

Mengartikulasikan visi yang meyakinkan

Menyelaraskan tim dengan strategi digital organisasi

Pengembangan tim

Merekrut, mengembangkan, mempertahankan talenta

Membangun tim dengan kecakapan digital yang diperlukan

Manajemen pemangku kepentingan

Melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara efektif

Mengelola kepentingan yang bersaing dalam transformasi digital

Interpersonal

Komunikasi

Menjelaskan konsep teknis dengan bahasa yang mudah dipahami

Memfasilitasi pemahaman lintas berbagai audiens

Kolaborasi

Bekerja secara efektif dalam tim lintas fungsi

Meruntuhkan sekat antardepartemen, menumbuhkan kolaborasi

Kecerdasan emosional

Memahami dan mengelola emosi diri dan orang lain

Menavigasi kompleksitas dan perubahan dengan empati

 

Technical Competencies

Manajer kesehatan tidak perlu menjadi pakar sistem, tetapi harus memahami sejumlah hal mendasar yang memungkinkan mereka menjalankan peran manajerial dengan efektif:

þ  Fungsionalitas dasar dan kemampuan sistem yang digunakan

þ  Standar entri data dan persyaratan mutu data

þ  Bagaimana data mengalir melalui sistem dan bagaimana data tersebut dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan klinis

þ  Persyaratan keamanan dan perlindungan privasi data

þ  Integrasi dengan sistem lain dan pemangku kepentingan eksternal

Pemahaman ini memungkinkan manajer untuk memastikan bahwa sistem digunakan secara tepat, mutu data dipertahankan, peluang optimasi dapat diidentifikasi, dan komunikasi dengan tim teknologi informasi dapat berjalan dengan produktif.

 

Alat Analitik dan Interpretasi Data

Manajer kesehatan modern harus merasa nyaman dengan alat visualisasi data dan dashboard yang menyajikan metrik operasional seperti volume pasien, waktu tunggu, luaran klinis, kinerja keuangan, dan metrik kepegawaian. Kecakapan kunci yang diperlukan meliputi:

þ  Memahami metrik dan indikator kinerja utama yang umum digunakan dalam layanan kesehatan

þ  Menginterpretasikan tren dalam data secara kritis

þ  Mengidentifikasi anomali atau pola yang mengkhawatirkan

þ  Menggunakan data untuk mendukung pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Di era di mana data kesehatan menjadi sasaran serangan siber yang semakin canggih, manajer harus memahami: ancaman keamanan siber yang umum seperti phishing, perangkat lunak berbahaya (ransomware), akses tidak sah; protokol keamanan dan praktik terbaik yang harus diterapkan; persyaratan kepatuhan regulasi di Indonesia, termasuk Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi; dan pentingnya pelatihan keamanan siber bagi seluruh staf. Keamanan siber bukan semata tanggung jawab departemen teknologi informasi, melainkan tanggung jawab bersama di mana setiap staf memiliki peran dalam melindungi data pasien.


Kompetensi Manajerial

1.       Manajemen Proyek

Inisiatif kesehatan digital seringkali merupakan proyek yang kompleks dengan berbagai komponen, pemangku kepentingan, dan ketergantungan yang saling terkait. Kompetensi manajemen proyek penting untuk: mendefinisikan tujuan, ruang lingkup, linimasa, dan anggaran proyek; mengidentifikasi pemangku kepentingan dan mengelola ekspektasi mereka; memantau kemajuan dan mengelola risiko; mengelola perubahan dan mengatasi hambatan; serta memastikan proyek menghasilkan manfaat yang dijanjikan.

2.       Alokasi Sumber Daya

Sumber daya layanan kesehatan (tenaga, anggaran, waktu) seringkali sangat terbatas. Alokasi sumber daya yang efektif dalam konteks transformasi digital mensyaratkan kemampuan untuk memahami prioritas yang bersaing, membuat pilihan-pilihan sulit yang tepat sasaran, memastikan penggunaan optimal dari sumber daya yang tersedia, serta membangun kasus bisnis yang meyakinkan untuk membenarkan investasi dalam inisiatif digital.

3.       Optimasi Proses

Teknologi digital seringkali memberikan peluang untuk mengoptimalkan alur kerja yang ada. Manajer dengan kompetensi optimasi proses dapat: memetakan alur kerja yang berlaku saat ini dan mengidentifikasi hambatan; merancang alur kerja yang disempurnakan dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas; mengimplementasikan perubahan dengan gangguan minimal terhadap pelayanan; dan memantau dampak dari perubahan proses yang dilakukan.

 

Kompetensi Kepemimpinan

1.       Penetapan Visi

Visi yang meyakinkan menginspirasi staf untuk merangkul perubahan dan berkontribusi sepenuh hati. Visi yang efektif dalam kesehatan digital harus terhubung dengan misi dan nilai-nilai organisasi, mengartikulasikan manfaat dalam bahasa yang bermakna bagi berbagai pemangku kepentingan, ambisius namun dapat dicapai, serta dikomunikasikan secara konsisten dan diperkuat secara berkelanjutan.

2.       Pengembangan Tim dan Talenta

Transformasi digital memerlukan tim dengan keterampilan yang beragam, tenaga klinis, profesional teknologi informasi, manajer proyek, spesialis manajemen perubahan, dan analis data. Manajer harus mampu merekrut individu dengan kecakapan yang diperlukan dan potensi pertumbuhan; mengembangkan staf yang ada melalui pelatihan dan pendampingan; menciptakan lingkungan di mana beragam talenta dapat berkembang; dan mempertahankan talenta dalam pasar yang kompetitif. Tinjauan sistematis terhadap kompetensi digital pemimpin kesehatan menegaskan bahwa pengembangan dan dukungan kompetensi digital para pemimpin layanan kesehatan perlu mendapat perhatian dalam organisasi, penelitian, dan pendidikan kesehatan (Lahti et al., 2024).

3.       Manajemen Pemangku Kepentingan

Transformasi digital melibatkan pemangku kepentingan yang beragam dengan perspektif dan kepentingan yang berbeda: tenaga klinis yang peduli terhadap continuity of care; departemen teknologi informasi yang memperhatikan kelayakan teknis dan keamanan; bagian keuangan yang memperhatikan biaya dan imbal hasil investasi; pasien yang peduli terhadap akses dan mutu layanan; regulator yang memperhatikan kepatuhan; serta dewan pengawas yang memperhatikan keselarasan strategis. Manajemen pemangku kepentingan yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang berbagai perspektif dan kekhawatiran tersebut, kemampuan membangun konsensus, navigasi konflik yang konstruktif, komunikasi yang transparan, serta pengambilan keputusan yang menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang bersaing.

 

Kompetensi Interpersonal

1.       Komunikasi

Komunikasi yang efektif dalam konteks kesehatan digital mensyaratkan kemampuan menjelaskan konsep teknis dalam bahasa yang mudah dipahami, menyesuaikan pesan untuk audiens yang berbeda-beda, mendengarkan secara aktif dan memahami kekhawatiran yang disampaikan, mengomunikasikan temuan data dan hasil analitik secara jelas, serta menceritakan kisah yang menginspirasi dan memotivasi seluruh jajaran organisasi.

2.       Kolaborasi

Sekat antara fungsi klinis, teknologi informasi, administratif, dan keuangan seringkali menjadi penghalang utama bagi keberhasilan transformasi digital. Pemimpin yang kolaboratif mampu meruntuhkan sekat-sekat tersebut dan menumbuhkan kerja sama lintas fungsi; menciptakan ruang yang aman untuk dialog dan pemecahan masalah bersama; membangun kepercayaan antara berbagai fungsi yang berbeda; menghargai keragaman perspektif; dan berfokus pada keberhasilan kolektif, bukan sekadar keberhasilan unit masing-masing.

3.       Kecerdasan Emosional

Transformasi digital seringkali memunculkan emosi yang kuat. Antusiasme tentang kemungkinan-kemungkinan baru, kecemasan tentang ketidakpastian, dan frustrasi terhadap masalah teknis atau lambatnya kemajuan. Para pemimpin dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat: mengenali dan memvalidasi emosi tersebut tanpa menghakimi; mengelola emosi diri sendiri secara produktif; mengembangkan empati terhadap pengalaman orang lain; menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis; dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan seluruh pemangku kepentingan (PMC, 2025).



C.        WHO DIGITAL HEALTH COMPETENCY FRAMEWORK (KERANGKA KOMPETENSI KESEHATAN DIGITAL WHO)


Kerangka DECODE untuk Pendidikan Kedokteran

Kerangka DECODE (Digital Health Competencies in Medical Education) yang dikembangkan oleh Car et al. (2025) melalui penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open merupakan tonggak penting dalam standardisasi kompetensi kesehatan digital secara global. Kerangka ini dikembangkan melalui lima tahap yang ketat, mencakup pemetaan berbasis tinjauan cakupan, pembentukan panel ahli internasional, putaran konsultasi delphi, validasi, dan finalisasi konsensus.

Kerangka DECODE terdiri dari 4 domain utama, 19 kompetensi inti, serta 33 luaran pembelajaran wajib dan 145 luaran pembelajaran pilihan, yang memungkinkan institusi pendidikan kedokteran untuk mengadaptasi kurikulum kesehatan digital sesuai dengan konteks dan persyaratan jurisdiksi masing-masing:

þ  Profesionalisme Kesehatan Digital: Etika, privasi, keamanan, dan tanggung jawab profesional dalam penggunaan teknologi kesehatan

þ  Kesehatan Pasien dan Populasi Digital: Penggunaan alat digital untuk meningkatkan keterlibatan pasien, kesetaraan akses, dan kesehatan populasi

þ  Sistem Informasi Kesehatan: Pemahaman dan penggunaan rekam medis elektronik, sistem informasi, dan infrastruktur data kesehatan

þ  Ilmu Data Kesehatan: Literasi data, analitik, kecerdasan buatan, dan pengambilan keputusan berbasis bukti

Kerangka ini merupakan upaya pertama yang diketahui untuk mengembangkan kurikulum kesehatan digital bagi pendidikan kedokteran dalam skala global (Car et al., 2025).

 

Kerangka Kompetensi Kesehatan Digital WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan kerangka kerja yang komprehensif untuk kompetensi kesehatan digital yang bertujuan memperkuat kapasitas kesehatan digital di tingkat negara. Kerangka Kompetensi Kesehatan Digital WHO merinci kompetensi bagi pembuat kebijakan kesehatan digital, perencana dan manajer program, praktisi kesehatan, serta pasien dan masyarakat umum. Kerangka ini juga memandu para pengembang kurikulum, pemimpin kesehatan digital, dan praktisi dalam menggunakan dan mengimplementasikan solusi, sistem, dan layanan kesehatan digital (WHO, 2023). Lima domain kompetensi yang diidentifikasi dalam kerangka WHO meliputi:

1.       Literasi Data Kesehatan: Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan data kesehatan secara tepat. Hal ini mencakup jenis dan struktur data, mutu, validitas, dan reliabilitas data, konsep-konsep statistik, serta interpretasi dan visualisasi data.

2.       Keamanan Siber: Kemampuan memahami dan melindungi diri dari ancaman keamanan siber. Mencakup ancaman umum seperti phishing, perangkat lunak berbahaya, dan ransomware; protokol keamanan; prinsip-prinsip privasi data dan regulasi yang berlaku; serta respons terhadap insiden siber.

3.       Komunikasi dan Kolaborasi: Kemampuan berkomunikasi secara efektif menggunakan perangkat dan platform digital. Mencakup konferensi video, perpesanan instan, platform kolaborasi, etiket digital profesional, dan pengelolaan kelelahan digital.

4.       Perangkat Kesehatan Digital: Kemampuan menggunakan alat dan sistem digital yang digunakan dalam layanan kesehatan. Mencakup rekam medis elektronik, sistem informasi manajemen rumah sakit, platform telemedisin, alat produktivitas, alat analitik data, dan sistem berbasis komputasi awan.

5.       Telemedicine: Kemampuan memberikan layanan kesehatan secara jarak jauh. Mencakup kecakapan teknis, keterampilan konsultasi klinis secara daring, strategi keterlibatan pasien, dan dokumentasi untuk pertemuan jarak jauh.

Kerangka WHO ini menyediakan pendekatan yang terstandarisasi untuk mengasesmen dan mengembangkan kompetensi kesehatan digital di seluruh lapisan tenaga kesehatan (WHO, 2021).

 

Standar Nasional di Indonesia

Indonesia memiliki standar nasional untuk kompetensi kesehatan digital yang sedang dikembangkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi dan berbagai organisasi profesi terkait. Kementerian Kesehatan RI melalui Cetak Biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024 telah menetapkan arah pengembangan kompetensi digital tenaga kesehatan yang selaras dengan kerangka WHO, namun disesuaikan dengan konteks Indonesia termasuk penggunaan Bahasa Indonesia dan kosakata budaya yang tepat, realitas sistem kesehatan Indonesia, penyakit dan tantangan kesehatan yang khas di Indonesia, serta lingkungan regulasi nasional yang berlaku (Kemenkes RI, 2024).

Berbagai alat asesmen tersedia untuk mengevaluasi kompetensi kesehatan digital, mulai dari kuesioner asesmen diri, asesmen berbasis kecakapan praktis, uji pengetahuan, hingga asesmen portofolio. Program sertifikasi dalam bidang kesehatan digital kini semakin tersedia secara luas mulai dari sertifikasi dasar dalam penggunaan rekam medis elektronik hingga sertifikasi lanjutan dalam informatika kesehatan atau manajemen kesehatan digital. Pengembangan kerangka kompetensi yang valid dan dapat diandalkan untuk pendidikan kesehatan digital merupakan salah satu prioritas global saat ini, mengingat belum adanya pemahaman universal tentang kompetensi, domain, dan praktik terbaik yang dibutuhkan (Warrier et al., 2024).

 


D.        ETHICAL LEADERSHIP DALAM ERA DIGITAL




Ethical Decision Making

Pemanfaatan teknologi dan data dalam layanan kesehatan membawa pertimbangan etis yang sangat signifikan dan tidak dapat diabaikan. Pemimpin yang etis dalam kesehatan digital menjunjung tinggi sejumlah prinsip fundamental:

þ  Mengutamakan kesejahteraan pasien. Dalam setiap keputusan tentang adopsi atau penggunaan teknologi, pertimbangan utama adalah bagaimana teknologi tersebut akan berdampak pada keselamatan, privasi, dan luaran kesehatan pasien.

þ  Memastikan kesetaraan akses. Kesehatan digital dapat menciptakan peluang untuk meningkatkan akses layanan, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan apabila tidak dirancang dan diimplementasikan dengan cermat. Pemimpin yang etis memastikan bahwa solusi digital memberikan manfaat bagi seluruh pasien, termasuk kelompok rentan dan masyarakat yang selama ini kurang terlayani.

þ  Menjaga transparansi. Pemimpin memastikan bahwa keputusan tentang penggunaan teknologi dibuat secara transparan, dengan keterlibatan pemangku kepentingan yang tepat dan komunikasi yang jelas tentang implikasinya bagi semua pihak.

þ  Menghormati otonomi. Pasien memiliki hak untuk memahami bagaimana data mereka digunakan dan untuk menolak penggunaan teknologi tertentu yang mereka keberatan. Para pemimpin menghormati otonomi ini sebagai hak dasar yang tidak dapat dikompromikan.

þ  Mengelola konflik kepentingan. Pemimpin sadar akan potensi konflik kepentingan misalnya, hubungan dengan penyedia teknologi atau insentif finansial yang mungkin memengaruhi keputusan teknologi dan mengelola konflik tersebut secara transparan dan bertanggung jawab.

Penelitian terkini yang mengkaji kepemimpinan kesehatan digital menekankan bahwa kepemimpinan yang revolusioner dalam layanan kesehatan mensyaratkan integrasi dimensi etis dalam setiap aspek penggunaan teknologi, karena pemimpin digital yang efektif memikul tanggung jawab moral yang besar terhadap dampak teknologi pada kesejahteraan pasien dan tenaga kesehatan (PMC, 2025).

 

Menyeimbangkan Inovasi dengan Keselamatan Pasien

Inovasi merupakan hal yang esensial untuk meningkatkan layanan kesehatan, tetapi inovasi juga membawa risiko yang tidak boleh dianggap remeh. Para pemimpin yang etis menyeimbangkan inovasi dengan keselamatan melalui:

þ  Pengujian yang ketat: Teknologi baru diuji secara menyeluruh sebelum diterapkan secara luas kepada pasien

þ  Pemantauan terhadap dampak yang tidak diinginkan: Pengawasan yang berkesinambungan terhadap masalah yang tidak terduga

þ  Respons cepat terhadap masalah: Protokol yang jelas untuk menangani kekhawatiran keselamatan yang muncul selama atau setelah implementasi

þ  Transparansi dalam pelaporan luaran: Komunikasi yang jujur tentang manfaat maupun risiko dari teknologi yang diadopsi kepada semua pemangku kepentingan yang berkepentingan

 



E.        CONTINUOUS LEARNING AND PROFESSIONAL DEVELOPMENT


Digital Literacy Programs

Organisasi harus berinvestasi dalam program literasi digital bagi semua lapisan staf, bukan hanya manajer. Program yang efektif harus: dapat diakses oleh staf dengan berbagai tingkatan pengalaman sebelumnya; bersifat praktis, berfokus pada cara menggunakan alat yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari; bersifat berkelanjutan dan terus berkembang seiring teknologi berubah; serta suportif, dengan pendampingan dan bantuan yang mudah diakses ketika dibutuhkan.

Penelitian tentang pengelolaan berbagi kompetensi digital di organisasi kesehatan secara konsisten menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran antargenerasi di mana tenaga kesehatan yang lebih muda berbagi kecakapan digital dengan rekan yang lebih senior, dan sebaliknya. Hal ini sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi digital secara kolektif (Nurmeksela et al., 2024).

 

Leadership Development Programs

Bagi para manajer, program pengembangan kepemimpinan yang terkhusus dapat: mengembangkan kapabilitas pemikiran strategis tentang digitalisasi layanan kesehatan; meningkatkan kecakapan kepemimpinan perubahan dalam konteks transformasi digital; membangun kecerdasan emosional yang diperlukan untuk memimpin di tengah ketidakpastian; menumbuhkan pola pikir inovatif yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan; serta menghubungkan manajer dengan sesama pemimpin untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Kajian kualitatif tentang persepsi profesional kesehatan terhadap kepemimpinan masa depan dalam layanan kesehatan digital mengidentifikasi tujuh karakteristik kepemimpinan yang akan dibutuhkan, yaitu: membangun layanan kesehatan yang berorientasi masa depan; memperkuat budaya organisasi yang berpola pikir digital; aktif berinteraksi dalam lingkungan digital; memimpin secara berkelanjutan; memimpin dengan keahlian; memimpin secara kolaboratif; dan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam kepemimpinan (PMC, 2025).

 

Professional Certifications

Sertifikasi yang tersedia dalam bidang kesehatan digital mencakup beragam pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan profesional masing-masing manajer:

þ  Program Sertifikasi Kepemimpinan Kesehatan Digital

þ  Sertifikasi Informatika Kesehatan

þ  Sertifikasi Manajemen Proyek (termasuk metodologi agile yang relevan untuk proyek digital)

þ  Sertifikasi Analitik Data

þ  Sertifikasi Keamanan Siber untuk lingkungan layanan kesehatan

Sertifikasi menyediakan jalur pembelajaran yang terstruktur dan pengakuan kredensial yang diakui secara formal oleh industri dan lembaga pemberi kerja.

 

Peer Learning Networks

Jaringan pembelajaran sejawat, yaitu kelompok formal di mana para pemimpin layanan kesehatan bertemu secara teratur untuk mendiskusikan tantangan dan berbagi pengalaman. Jaringan ini dapat: menyediakan forum untuk mendiskusikan tantangan kesehatan digital yang spesifik dan kontekstual; memfasilitasi pertukaran praktik terbaik antara organisasi yang berbeda; mengurangi rasa terisolasi dalam menghadapi kompleksitas transformasi digital; dan menciptakan akuntabilitas bersama untuk pengembangan profesi yang berkelanjutan.

 


F.        PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN DIRI UNTUK DIGITAL LEADERSHIP


Self-Assessment

Titik awal dari rencana pengembangan yang efektif adalah asesmen diri yang jujur tentang kapabilitas yang dimiliki saat ini dibandingkan dengan kapabilitas yang diinginkan. Proses asesmen diri ini dapat melibatkan: refleksi mendalam tentang kekuatan dan area yang perlu dikembangkan; pencarian umpan balik dari rekan sejawat, atasan, dan bawahan; penggunaan alat asesmen atau kerangka kompetensi yang terstandarisasi; serta pemahaman tentang gaya dan preferensi belajar diri sendiri.

 

Setting Goals

Berdasarkan hasil asesmen diri, kembangkan tujuan yang Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu (SMART). Contoh tujuan yang baik:

þ  "Menyelesaikan sertifikasi dalam informatika kesehatan dalam 12 bulan ke depan"

þ  "Mengembangkan kecakapan dalam analisis data menggunakan dasbor rumah sakit dalam 6 bulan ke depan"

þ  "Memimpin satu proyek digital dengan luaran yang berhasil dalam 18 bulan ke depan"

þ  "Membangun hubungan yang lebih kuat dengan kepemimpinan teknologi informasi melalui pertemuan bulanan yang terjadwal"

 

Identifying Learning Strategies

Orang yang berbeda belajar dengan cara yang berbeda, dan rencana pengembangan yang efektif memanfaatkan kombinasi berbagai strategi pembelajaran yang saling melengkapi:

þ  Pembelajaran formal: Kursus, sertifikasi, program gelar, atau pendidikan profesi lanjutan

þ  Pembelajaran berbasis pengalaman: Mengambil alih proyek-proyek yang menantang atau peran-peran baru yang mendorong pertumbuhan

þ  Pendampingan (mentoring): Bekerja sama dengan mentor yang memiliki keahlian dalam bidang yang ingin dikembangkan

þ  Pembelajaran sejawat: Belajar dari rekan-rekan dengan pengalaman yang serupa namun berbeda konteks

þ  Pembelajaran mandiri: Membaca, mengikuti kursus daring, mendengarkan podcast, dan menghadiri seminar daring yang relevan

 

Monitoring Progress dan Adjusting Plan

Rencana pengembangan harus ditinjau secara berkala, umumnya setiap triwulan atau dua kali dalam setahun. Tinjauan ini memungkinkan untuk: menilai kemajuan terhadap tujuan yang telah ditetapkan; mengidentifikasi hambatan dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya; menyesuaikan tujuan atau linimasa apabila diperlukan berdasarkan perubahan konteks; serta merayakan kemajuan yang telah dicapai guna mempertahankan motivasi dan momentum yang berkelanjutan.

Sebuah studi sistematis terhadap kompetensi digital pemimpin kesehatan menegaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kompetensi digital pemimpin layanan kesehatan mencakup karakteristik individu, karakteristik karier, pelatihan yang diterima, dan faktor-faktor kontekstual lainnya, yang semuanya perlu dipertimbangkan dalam menyusun rencana pengembangan yang benar-benar dipersonalisasi (Lahti et al., 2024).

 


RINGKASAN MATERI

Kepemimpinan digital dalam layanan kesehatan menuntut perpaduan unik antara pengetahuan teknologi, kecakapan manajerial, kompetensi kepemimpinan, dan kompetensi interpersonal yang tinggi. Kerangka DECODE yang dikembangkan oleh Car et al. (2025) serta Kerangka Kompetensi Kesehatan Digital WHO menyediakan pendekatan yang terstruktur dan terstandarisasi untuk mengasesmen dan mengembangkan kompetensi yang diperlukan. Pemimpin digital yang efektif mampu memahami teknologi dan berpikir secara strategis tentang penerapannya dalam layanan kesehatan; mendorong perubahan dan menumbuhkan inovasi; mengambil keputusan berdasarkan data dan bukti; memimpin dengan integritas dan kesadaran etis yang tinggi; terus belajar dan mengembangkan diri; membangun dan mengembangkan tim yang kuat; melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara efektif; menyeimbangkan inovasi dengan keselamatan pasien; serta menciptakan budaya organisasi yang mendukung transformasi digital secara berkelanjutan. Rencana pengembangan diri yang terstruktur merupakan langkah penting dalam membangun kapabilitas kepemimpinan digital. Melalui asesmen yang jujur, penetapan tujuan yang terukur, dan keterlibatan dalam berbagai strategi pembelajaran, manajer kesehatan dapat mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk memimpin transformasi digital yang berhasil dan bermakna di fasilitas layanan kesehatan Indonesia.

 

 


 By Jeki Pornomo, S.Kep., MMR.

DAFTAR PUSTAKA

Car, J., Sam, A. H., Meski, A., Ng, K., Sartain, K., Ahmad Shafeq, S. M., Thomas, P. P., Williams, M. S., & Sheikh, A. (2025). The digital health competencies in medical education (DECODE) framework. JAMA Network Open8(1). https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.58202

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cetak biru strategi transformasi digital kesehatan Indonesia 2024. Kemenkes RI. https://oss2.dto.kemkes.go.id/artikel-web-dto/ENG-Blueprint-for-Digital-Health-Transformation-Strategy-Indonesia%202024.pdf

Kludacz-Alessandri, M., Hawrysz, L., Żak, K., & Zhang, W. (2025). The impact of digital transformational leadership on digital intensity among primary healthcare entities. BMC Health Services Research25, 117. https://doi.org/10.1186/s12913-025-12283-x

Lahti, M., Airola, E., & Kontio, R. (2024). Digital competence among healthcare leaders: A mixed-methods systematic review. Journal of Nursing Management32(4), e14820. https://doi.org/10.1155/2024/5468972

Nurmeksela, A., Makkonen, A., Kinnunen, J., & Kvist, T. (2024). The management of digital competence sharing in health care: A qualitative study of managers' and professionals' views. Journal of Advanced Nursing80(8), 3269–3280. https://doi.org/10.1111/jan.15963

PMC. (2025). Healthcare professionals' perceptions of future leadership in digital healthcare. BMC Health Services Research, Article 12810602. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12810602/

PMC. (2025). Revolutionizing healthcare leadership: The critical role of digital leadership in knowledge sharing. PMC, Article 11910507. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11910507/

Warrier, U., Bhatt, T., Kaur, M., Mathur, S., & Suri, K. (2024). The digital determinants of health: A guide for competency development in digital health education. JMIR Medical Education10, e54173. https://doi.org/10.2196/54173

World Health Organization. (2021). Global strategy on digital health 2020–2025. WHO. https://www.who.int/docs/default-source/documents/gs4dhdaa2a9f352b0445bafbc79ca799dce4d.pdf

World Health Organization. (2023). Digital health competency framework committee: Open call for experts. WHO. https://www.who.int/news-room/articles-detail/open-call-for-experts-to-serve-as-members-of-the-digital-health-competency-framework

World Health Organization Regional Office for Europe. (2025). Transforming digital skills and competencies in the health and care workforce: A WHO strategy for the WHO European Region 2023–2030. WHO Europe. https://eurohealthobservatory.who.int/publications/i/transforming-digital-skills-and-competencies-in-the-health-and-care-workforce

Comments