BAB VII CHANGE MANAGEMENT DAN TRANSFORMASI ORGANISASI DALAM DIGITALISASI KESEHATAN
Capaian
Pembelajaran
Setelah
menyelesaikan modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
þ Memahami konsep
dan model manajemen perubahan yang relevan dalam konteks digitalisasi kesehatan
þ Menganalisis
hambatan-hambatan spesifik dalam transformasi digital rumah sakit dan
organisasi kesehatan
þ Merancang
rencana manajemen perubahan yang komprehensif untuk implementasi teknologi
kesehatan digital
þ Mengidentifikasi
peran kepemimpinan dalam mendorong penerimaan dan adopsi perubahan organisasi
A.
FONDASI CHANGE MANAGEMENT
Definisi dan
Konsep Dasar
Manajemen
perubahan merupakan proses yang terstruktur dan sistematis untuk memandu
individu, tim, dan organisasi dalam bertransisi dari kondisi yang ada saat ini
menuju kondisi masa depan yang diinginkan. Dalam konteks digitalisasi layanan
kesehatan, manajemen perubahan bukan sekadar persoalan penerapan teknologi
baru, melainkan transformasi menyeluruh yang menyentuh cara kerja, budaya
organisasi, dan pola perilaku seluruh tenaga kesehatan (Cano, 2024).
Penelitian
terkini mengidentifikasi empat elemen kunci manajemen perubahan yang menentukan
keberhasilan transformasi digital di sektor kesehatan, yaitu kepemimpinan yang
kuat, kesiapan organisasi, keterlibatan aktif tenaga kerja, dan kolaborasi
strategis antarpemangku kepentingan (Savonia University of Applied Sciences,
2025). Kegagalan implementasi sistem informasi kesehatan pada umumnya bukan
disebabkan oleh persoalan teknis semata, melainkan oleh ketidaksiapan
organisasi serta resistansi pengguna terhadap perubahan.
Para pakar
manajemen kesehatan menegaskan bahwa transformasi digital yang berhasil
mensyaratkan keseimbangan antara komponen teknologi dan komponen manusia dalam
budaya organisasi (Abreu et al., 2025). Dengan kata lain, investasi pada
perangkat keras dan perangkat lunak harus senantiasa diiringi dengan investasi
yang sepadan pada pengembangan sumber daya manusia dan penataan ulang proses
kerja.
Memahami
Resistansi terhadap Perubahan
Resistansi
terhadap perubahan adalah respons yang wajar dialami oleh individu maupun
organisasi ketika berhadapan dengan situasi yang belum mereka kenal sebelumnya.
Dalam organisasi kesehatan, resistansi ini bersumber dari beragam faktor yang
saling berinteraksi. Sumber-Sumber Resistansi:
þ Faktor
Psikologis: Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan, keahlian yang menjadi usang
seiring hadirnya teknologi baru, serta kurangnya keyakinan diri dalam
mengoperasikan sistem yang belum pernah digunakan sebelumnya
þ Faktor Praktis:
Keterbatasan waktu untuk mengikuti pelatihan, beban kerja klinis yang sudah
sangat tinggi, dan gangguan pada proses pelayanan pasien selama masa transisi
berlangsung
þ Faktor
Organisasional: Komunikasi yang tidak memadai tentang tujuan perubahan, tidak
adanya visi bersama mengenai urgensi transformasi digital, serta pengalaman
negatif terhadap proyek teknologi sebelumnya
þ Faktor Budaya:
Norma-norma yang telah mengakar dalam organisasi, kecenderungan mempertahankan
cara kerja tradisional, dan minimnya kepercayaan terhadap manajemen puncak
Penanganan
resistansi memerlukan pendekatan yang berlapis dan menyeluruh. Pertama,
keterbukaan dalam komunikasi menjadi sangat penting, seluruh tenaga kesehatan
perlu memahami mengapa perubahan dilakukan, bukan
sekadar apa yang akan berubah. Kedua, pelibatan
pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan secara signifikan mengurangi
kecurigaan dan penolakan. Ketiga, penyediaan dukungan yang memadai
melalui pelatihan terstruktur, pendampingan, dan layanan bantuan teknis
terbukti meredakan kekhawatiran praktis. Keempat, pengakuan serta
pemberian apresiasi kepada pengguna awal yang proaktif membangun momentum
positif dalam organisasi (Cano, 2024).
B.
MODEL ADKAR: KERANGKA PERUBAHAN INDIVIDUAL
Pemahaman Model
ADKAR
Model ADKAR
dikembangkan oleh Jeff Hiatt dan merupakan akronim dari lima elemen esensial
dalam proses perubahan pada tataran individu: Kesadaran (Awareness), Keinginan
(Desire), Pengetahuan (Knowledge), Kemampuan (Ability), dan Penguatan
(Reinforcement). Berbeda dari model-model yang berfokus pada strategi
organisasi secara makro, ADKAR menekankan bahwa keberhasilan transformasi
organisasi pada hakikatnya bergantung pada kemampuan setiap individu dalam
organisasi untuk berubah.
Studi kasus
terkini dalam implementasi teknologi kesehatan digital membuktikan efektivitas
model ADKAR ini. Penerapan metodologi ADKAR secara terstruktur dalam
transformasi sistem pelaporan luaran klinis berbasis elektronik (electronic
patient-reported measures/ePRM) di layanan onkologi negara bagian New South
Wales, Australia, berhasil mengidentifikasi dan menanggulangi berbagai hambatan
implementasi secara sistematis, mulai dari membangun kesadaran dan keinginan
melalui pelibatan pemangku kepentingan yang tepat sasaran, hingga mengembangkan
kemampuan melalui pelatihan berbasis peran, dan memperkuat adopsi jangka
panjang melalui pemantauan kinerja yang berkelanjutan (Mazariego et al., 2026).
Tabel 7.1. Elemen-elemen
ADKAR
|
Elemen |
Definisi |
Indikator Keberhasilan |
Strategi Implementasi |
|
Kesadaran |
Pemahaman
tentang perlunya perubahan dan alasan strategis yang melatarbelakanginya |
Tenaga
kesehatan memahami kondisi saat ini dan potensi dampak apabila perubahan
tidak dilakukan |
Komunikasi
berkala tentang urgensi perubahan, studi kasus, dan data pendukung |
|
Keinginan |
Motivasi dan
dorongan dari dalam diri untuk turut berpartisipasi dalam perubahan |
Tenaga
kesehatan menunjukkan antusiasme dan secara proaktif mencari informasi
tentang sistem baru |
Penyorotan
manfaat personal, berbagi kisah sukses, dan penanganan kekhawatiran yang
spesifik |
|
Pengetahuan |
Pemahaman
tentang cara mengimplementasikan perubahan secara konseptual maupun praktis |
Tenaga
kesehatan mampu menjelaskan proses baru dan menunjukkan pemahaman yang solid |
Pelatihan
formal, lokakarya interaktif, dokumentasi yang jelas, dan pembelajaran
antarsejawat |
|
Kemampuan |
Kecakapan
praktis untuk menjalankan proses dan sistem dengan cara yang baru |
Tenaga
kesehatan dapat mengoperasikan sistem baru dengan penuh percaya diri dan
akurasi tinggi |
Pelatihan
berbasis praktik, simulasi, lingkungan latihan yang aman, dukungan tenaga
ahli, dan umpan balik konstruktif |
|
Penguatan |
Dukungan
berkelanjutan agar perubahan menjadi cara kerja baru yang lestari |
Perubahan
tercermin dalam prosedur operasional baku, budaya kerja, dan praktik
sehari-hari |
Pemberian
penghargaan, pemantauan berkelanjutan, pelatihan penyegaran, dan integrasi
dalam penilaian kinerja |
Aplikasi ADKAR
dalam Digitalisasi Kesehatan
Studi kasus di
berbagai fasilitas kesehatan menunjukkan implementasi ADKAR yang sukses. Beberapa
studi melaporkan bahwa ketika implementasi sistem rekam medis elektronik (RME)
didukung oleh strategi ADKAR yang komprehensif, tingkat adopsi mencapai 85%
dalam tiga bulan pertama, dibandingkan dengan 45% tanpa strategi manajemen
perubahan. Contoh skenario Aplikasi: Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit.
þ Awareness: Organisasi
mengkomunikasikan bahwa sistem manual yang berlaku saat ini mengakibatkan
duplikasi data, potensi kesalahan diagnosis, dan inefisiensi waktu yang
signifikan. Sistem rekam medis elektronik akan meningkatkan keselamatan pasien,
mutu dokumentasi klinis, dan kecepatan respons tenaga kesehatan.
þ Desire: Ditonjolkan
bagaimana rekam medis elektronik akan mengurangi beban administratif dokter dan
perawat, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu yang benar-benar
didedikasikan untuk pelayanan langsung kepada pasien. Ditampilkan pula
testimoni langsung dari rumah sakit yang telah berhasil menerapkan sistem
serupa dengan hasil yang positif.
þ Knowledge: Disediakan
pelatihan menyeluruh yang mencakup kecakapan dasar teknologi informasi,
navigasi antarmuka sistem rekam medis elektronik, entri data, akses rekam
medis, dan pelaporan. Pelatihan dilaksanakan dalam kelompok kecil dengan
penekanan pada praktik langsung.
þ Ability: Tim
dukungan teknis tersedia selama jam kerja dan siaga di luar jam operasional,
panduan alur kerja ditempatkan di setiap pos kerja, dan supervisi berkala
dengan umpan balik memastikan seluruh tenaga kesehatan menggunakan sistem
dengan tepat dan benar.
þ Reinforcement: Sistem
diintegrasikan ke dalam standar prosedur operasional, audit mutu dilaksanakan
secara teratur, penghargaan diberikan kepada unit dengan tingkat kepatuhan
terbaik, dan siklus perbaikan berkelanjutan dijalankan berdasarkan masukan
pengguna.
C.
HAMBATAN TERHADAP TRANSFORMASI DIGITAL
Hambatan
Organisasional
Hambatan
organisasional mencakup ketiadaan visi yang jelas, alokasi sumber daya yang
tidak memadai, dan struktur organisasi yang terlalu kaku untuk beradaptasi terhadap
perubahan. Di Indonesia, hambatan organisasional yang paling sering dijumpai
dalam transformasi digital rumah sakit antara lain:
þ Kurangnya
kejelasan strategi: Tidak semua lapisan organisasi memahami visi digital jangka
panjang yang hendak diwujudkan
þ Keterbatasan
sumber daya keuangan: Anggaran untuk investasi teknologi seringkali terbatas,
sementara imbal hasil investasinya belum terlihat jelas dalam jangka pendek
þ Defisiensi
infrastruktur teknis: Sistem warisan yang sudah usang tidak dapat dengan mudah
diintegrasikan ke dalam platform digital baru
þ Migrasi tenaga
ahli: Profesional muda yang telah terlatih cenderung berpindah ke organisasi
yang menawarkan infrastruktur teknologi lebih maju dan lingkungan kerja lebih
kondusif
Hambatan Teknis
Hambatan teknis
meliputi ketergantungan pada sistem lama yang sudah ketinggalan zaman,
keterbatasan lebar pita jaringan dan infrastruktur teknologi informasi, serta
ketidaksesuaian antarberbagai sistem yang ada. Tinjauan sistematis terhadap
implementasi rekam medis digital di rumah sakit Indonesia mengidentifikasi lima
tantangan teknis utama, yaitu interoperabilitas sistem, privasi dan keamanan
data, keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, besarnya biaya
implementasi, serta tantangan pemeliharaan dan adopsi teknologi (Budiarto et
al., 2024).
Konteks
Indonesia menghadirkan tantangan yang khas. Kajian terhadap sejumlah rumah
sakit swasta di Indonesia menunjukkan adanya variasi tingkat kesiapan yang
cukup signifikan antarsatu rumah sakit dengan yang lain, bahkan dalam beberapa
kasus masih terdapat skeptisisme di kalangan pemangku kepentingan terhadap
urgensi transformasi digital itu sendiri (Rachmadhani et al., 2024).
Hambatan Faktor
Manusia
þ Kurangnya
kejelasan strategi: Tidak semua lapisan organisasi memahami visi digital jangka
panjang yang hendak diwujudkan
þ Keterbatasan
sumber daya keuangan: Anggaran untuk investasi teknologi seringkali terbatas,
sementara imbal hasil investasinya belum terlihat jelas dalam jangka pendek
þ Defisiensi infrastruktur
teknis: Sistem warisan yang sudah usang tidak dapat dengan mudah diintegrasikan
ke dalam platform digital baru
þ Migrasi tenaga
ahli: Profesional muda yang telah terlatih cenderung berpindah ke organisasi
yang menawarkan infrastruktur teknologi lebih maju dan lingkungan kerja lebih
kondusif
Hambatan Budaya
Budaya
organisasi layanan kesehatan yang bersifat tradisional dan hierarkis kerap
menghambat adopsi perubahan. Hierarki medis yang ketat kadangkala menghalangi
tenaga kesehatan di lapis bawah untuk menyampaikan umpan balik mengenai kendala
teknis atau operasional sistem yang baru diberlakukan. WHO (2025)
mengidentifikasi bahwa transformasi digital kesehatan memerlukan perubahan
budaya fundamental yang mengintegrasikan prinsip-prinsip data-driven decision
making, transparency, dan collaborative practice.
Tabel 7.2. Tipe
Hambatan dan Rekomendasi Stratei Mitigasi
|
Tipe Hambatan |
Manifestasi Spesifik |
Dampak pada Implementasi |
Strategi Mitigasi |
|
Organisasional |
Kurangnya
visi, keselarasan, dan sumber daya |
Implementasi
lambat, adopsi tidak tuntas |
Perencanaan
strategis, dukungan pimpinan eksekutif, alokasi anggaran yang tepat |
|
Teknis |
Sistem
warisan, keterbatasan infrastruktur |
Masalah
integrasi, gangguan layanan |
Asesmen
infrastruktur, peluncuran bertahap, kemitraan dengan penyedia solusi |
|
Sumber Daya
Manusia |
Literasi
digital rendah, kekhawatiran, penolakan |
Tingkat adopsi
rendah, penggunaan jalan pintas |
Pelatihan
komprehensif, manajemen perubahan, komunikasi yang intensif |
|
Budaya |
Hierarki kaku,
penolakan terhadap cara baru |
Pergeseran
budaya yang lambat, rutinitas lama yang persisten |
Inisiatif
perubahan budaya, keteladanan kepemimpinan, pengaruh sesama rekan |
|
Finansial |
Biaya awal
tinggi, imbal hasil investasi tidak pasti |
Keterbatasan
anggaran, penundaan pengambilan keputusan |
Penyusunan
kasus bisnis yang kuat, investasi bertahap, penetapan harga berbasis hasil |
D.
STRATEGI MANAJEMEN PERUBAHAN YANG KOMPREHENSIF
Pengembangan
Visi dan Strategi yang Jelas
Strategi
perubahan yang berhasil selalu dimulai dari visi yang meyakinkan dan terencana
secara matang. Visi tersebut harus melampaui aspek teknologi semata. Visi yang
efektif adalah visi tentang bagaimana teknologi akan meningkatkan kualitas
pelayanan pasien, efisiensi operasional, dan keberlanjutan keuangan organisasi
(Abreu et al., 2025). Contoh rumusan visi yang terarah:
"Menjadi
rumah sakit yang mengutamakan pendekatan digital dalam memberikan pelayanan
yang berpusat pada pasien aman, efisien, dan terjangkau bagi seluruh komunitas
yang kami layani”
Strategi perlu
dirumuskan dengan jelas, mencakup:
þ Tujuan strategis
— Apa yang ingin dicapai (luaran klinis yang lebih baik, pengurangan biaya,
peningkatan aksesibilitas layanan)
þ Inisiatif utama
— Proyek dan teknologi yang akan diimplementasikan
þ Tolok ukur
keberhasilan — Cara mengukur keberhasilan melalui indikator kinerja utama yang
spesifik dan realistis
þ Kebutuhan sumber
daya — Anggaran, sumber daya manusia, dan kemitraan eksternal yang diperlukan
Analisis dan
Pelibatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder)
Analisis
pemangku kepentingan yang menyeluruh merupakan kunci untuk merancang strategi
pelibatan yang efektif. Pemangku kepentingan dalam transformasi digital layanan
kesehatan meliputi:
þ Tenaga klinis
(dokter, perawat, teknisi medis) — pengguna utama sistem
þ Tenaga
administratif — fungsi penunjang seperti penagihan, kepegawaian, dan logistik
þ Manajemen —
pengambil keputusan dan penentu alokasi sumber daya
þ Pasien —
pengguna akhir yang berinteraksi langsung dengan teknologi pelayanan
þ Penyedia solusi
dan mitra teknologi informasi — pemberi keahlian teknis
þ Badan pengatur —
pemangku kepentingan yang mendefinisikan persyaratan kepatuhan regulasi
Strategi
pelibatan perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok. Bagi
tenaga klinis, pelibatan harus menonjolkan manfaat klinis dan mengikutsertakan
mereka dalam desain sistem sejak awal. Bagi manajemen, fokus diarahkan pada
kasus bisnis dan imbal hasil investasi. Bagi pasien, fokus diarahkan pada
kemudahan akses dan peningkatan mutu pelayanan yang mereka rasakan langsung.
Rencana
Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang
baik merupakan fondasi keberhasilan manajemen perubahan. Kegagalan dalam
transformasi digital seringkali berakar pada defisit komunikasi yang
mengakibatkan kesalahpahaman, spekulasi yang tidak produktif, dan resistansi
yang sebenarnya dapat dicegah (Cano, 2024). Komponen Rencana Komunikasi:
þ Arsitektur
pesan — Pesan inti yang harus dikomunikasikan, poin-poin utama, dan cara
penyesuaian pesan untuk kelompok sasaran yang berbeda
þ Saluran
komunikasi — Rapat pleno, surat elektronik, jaringan internal, pertemuan
tim, bimbingan individual, sesi pelatihan, dan media visual
þ Frekuensi dan
ketepatan waktu — Komunikasi teratur sesuai dengan fase perubahan
(pra-peluncuran, peluncuran, pascapeluncuran)
þ Keterlibatan dua
arah — Bukan sekadar penyebaran pesan, tetapi juga penampungan masukan dan
kekhawatiran dari tenaga kesehatan secara aktif
þ Rencana
komunikasi krisis — Tata cara merespons isu atau masalah yang muncul
selama implementasi berlangsung
Komunikasi yang
efektif memastikan seluruh tenaga kesehatan memahami: mengapa perubahan
diperlukan; bagaimana perubahan akan dilaksanakan; dampak perubahan terhadap
pekerjaan mereka secara spesifik; dukungan apa yang tersedia; serta linimasa
dan ekspektasi yang telah ditetapkan.
Program
Pelatihan dan Capacity Building
Program
pelatihan harus menyeluruh, mencakup pengetahuan teoretis tentang sistem baru
sekaligus kecakapan praktis dalam menggunakannya. Pendekatan tiga tingkat telah
terbukti efektif:
þ Tingkat 1 —
Pelatihan Kesadaran Umum: Ditujukan bagi seluruh tenaga kesehatan; memberikan
gambaran menyeluruh tentang sistem baru, alasan penerapannya, dan dampaknya
bagi organisasi. Durasi: 1–2 jam.
þ Tingkat 2 —
Pelatihan Berbasis Peran: Ditujukan bagi tenaga kesehatan yang akan menggunakan
sistem dalam aktivitas sehari-hari; mencakup pelatihan mendalam tentang alur
kerja spesifik, entri data, akses informasi, dan penanganan masalah umum.
Durasi: 4–6 jam, berbasis praktik, dengan latihan di lingkungan yang aman
sebelum peluncuran penuh.
þ Tingkat 3 —
Pelatihan Lanjutan: Ditujukan bagi pengguna super dan staf dukungan teknologi
informasi; mencakup pelatihan mendalam tentang administrasi sistem,
konfigurasi, fitur lanjutan, dan dukungan teknis tingkat tinggi.
Program
pelatihan yang efektif harus:
þ Dilaksanakan
mendekati waktu peluncuran agar pengetahuan tetap segar dan relevan
þ Berbasis praktik
dengan skenario latihan yang realistis
þ Menggunakan
bahasa dan konteks yang akrab bagi peserta
þ Memberikan
kesempatan untuk berlatih secara mandiri dan mengajukan pertanyaan
þ Diikuti dengan
dukungan berkelanjutan dan pelatihan penyegaran secara berkala
Implementasi
Bertahap dan Pilot Testing (Uji Coba Awal)
Implementasi
bertahap mengurangi risiko kegagalan dan memungkinkan organisasi untuk belajar
serta melakukan penyesuaian sebelum peluncuran penuh. Model ini telah terbukti
efektif dalam berbagai implementasi teknologi kesehatan digital di lingkungan
rumah sakit (Abreu et al., 2025):
þ Fase 1 — Pilot
(Uji Coba): Implementasi terbatas pada satu atau beberapa unit/departemen
selama 2–4 minggu. Uji coba ini menghasilkan umpan balik tentang kendala teknis
dan alur kerja operasional sebelum perluasan skala dilakukan.
þ Fase 2 — Adopsi
Awal: Perluasan ke lebih banyak unit dengan dukungan dan pemantauan yang masih
intensif. Pengguna awal yang umumnya lebih melek teknologi dapat berperan
sebagai pelopor dalam mendorong adopsi yang lebih luas.
þ Fase 3 —
Peluncuran Penuh: Implementasi ke seluruh organisasi dengan tim dukungan yang
sudah terbentuk dan proses yang telah disempurnakan berdasarkan pembelajaran
dari fase-fase sebelumnya.
þ Fase 4 —
Optimasi: Fokus pada optimasi dan perbaikan berkelanjutan, mengintegrasikan
sistem ke dalam proses standar dan budaya kerja organisasi.
Pemantauan,
Umpan Balik, dan Perbaikan Berkelanjutan
Pemantauan yang
berkesinambungan sangat penting untuk mendeteksi masalah sejak dini dan
melakukan penyesuaian yang diperlukan. Aktivitas pemantauan utama meliputi:
þ Pemantauan
teknis — Ketersediaan sistem, metrik kinerja, dan tingkat kesalahan
þ Pemantauan
adopsi — Statistik penggunaan dan identifikasi unit atau individu yang
masih tertinggal
þ Pemantauan mutu —
Kualitas data, kepatuhan terhadap proses standar, dan luaran klinis
þ Kepuasan
pengguna — Survei berkala, sesi umpan balik, dan pencatatan isu
þ Metrik bisnis —
Dampak terhadap kinerja keuangan, efisiensi operasional, dan kepuasan pasien
Data pemantauan harus dikumpulkan secara berkala dan dikomunikasikan kepada manajemen serta seluruh tenaga kesehatan. Setiap masalah yang teridentifikasi harus segera dieskalasi untuk penanganan yang cepat dan tepat sasaran.
E.
PERAN KEPEMIMPINAN DALAM CHANGE MANAGEMENT
Dukungan dan Komitmen
Pimpinan Eksekutif
Dukungan
pimpinan eksekutif merupakan faktor penentu keberhasilan transformasi digital
yang tidak dapat digantikan. Pimpinan yang hadir secara nyata dalam mendukung
perubahan, mendemonstrasikan penggunaan sistem baru secara langsung, menegaskan
pentingnya transformasi dalam berbagai forum, dan mengalokasikan sumber daya
yang memadai. Hal ini mengirimkan sinyal kuat kepada seluruh jajaran organisasi
tentang kesungguhan inisiatif tersebut.
Penelitian
terkini membuktikan bahwa kepemimpinan transformasional digital yang diterapkan
secara konsisten memiliki dampak signifikan terhadap intensitas digital di
fasilitas layanan kesehatan primer, karena pemimpin yang efektif mampu
mendorong inisiatif transformasi digital, meningkatkan kelincahan organisasi,
dan membangun keberlanjutan jangka panjang (Kludacz-Alessandri et al., 2025).
Implementasi yang gagal seringkali berakar pada lemahnya komitmen dan
ketidakselarasan kepemimpinan di berbagai tingkatan hierarki organisasi.
Leadership Role di
Berbagai Tingkatan
1. Tingkat Dewan
dan Pimpinan Puncak: Menetapkan visi strategis, mengalokasikan sumber daya,
membangun tata kelola, dan memantau kemajuan secara keseluruhan.
2. Kepala
Departemen dan Manajer Unit: Mengomunikasikan visi kepada tim, memastikan
tenaga kesehatan di bawah naungannya mendapat pelatihan yang memadai,
menghilangkan hambatan, menjadi teladan perilaku baru, dan memberikan dukungan
dalam aktivitas sehari-hari.
3. Pemimpin Lini
Depan (perawat senior, ketua tim medis): Memberikan dukungan antarsejawat,
membimbing rekan kerja, mengidentifikasi masalah praktis di lapangan, dan
memperjuangkan kepentingan tim mereka kepada manajemen.
Setiap level
kepemimpinan memiliki peran kritis dalam memastikan perubahan berjalan sukses.
Transformational
Leadership dalam Digitalisasi
Kepemimpinan
transformasional (gaya kepemimpinan yang
menginspirasi dan memberdayakan tenaga kesehatan untuk mewujudkan visi bersama)
sangat relevan dalam konteks digitalisasi layanan kesehatan. Bukti empiris
secara konsisten menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan
partisipatif berkaitan langsung dengan peningkatan kesiapan untuk berubah,
keterlibatan tenaga kerja yang lebih tinggi, dan penerimaan yang lebih besar
terhadap perangkat digital, terutama karena pemimpin yang efektif mampu mengartikulasikan
visi digital yang meyakinkan (Uduma et al., 2026). Karakteristik pemimpin
transformasional dalam konteks digitalisasi kesehatan meliputi:
þ Keteladanan yang
menginspirasi:
Menunjukkan komitmen nyata terhadap visi digital melalui tindakan, bukan
sekadar retorika
þ Motivasi yang
memberi harapan:
Mengomunikasikan visi yang meyakinkan dan menciptakan rasa tujuan bersama di
seluruh jajaran organisasi
þ Stimulasi
intelektual:
Mendorong pemikiran inovatif dan mendukung eksperimentasi yang terukur dan
bertanggung jawab
þ Perhatian
individual:
Mengenali kebutuhan dan kekhawatiran unik setiap individu serta memberikan
dukungan yang dipersonalisasi
F.
KESIAPAN ORGANISASI (ORGANIZATIONAL READINESS)
Alat Asesmen
Kesiapan
ebelum meluncurkan
transformasi digital berskala besar, organisasi perlu mengukur kesiapan mereka
secara sistematis. Sebuah kajian ilmiah yang memvalidasi kriteria kesiapan
transformasi digital di fasilitas kesehatan mengidentifikasi 21 item kesiapan
yang terhimpun dalam lima dimensi utama, yaitu: dukungan manajemen, pemantauan
kondisi terkini, budaya organisasi, ketersediaan sumber daya, dan manajemen
layanan (Tanrıkulu & Terzioğlu, 2023). Asesmen tersebut harus mencakup:
þ Kesiapan
strategis: Apakah organisasi memiliki visi dan strategi yang jelas dan
tertulis?
þ Kesiapan teknis:
Apakah infrastruktur teknologi informasi sudah memadai untuk mendukung sistem
baru?
þ Kesiapan
organisasional: Apakah struktur dan proses kerja mendukung pelaksanaan
perubahan?
þ Kesiapan sumber
daya manusia: Apakah tenaga kesehatan memiliki kecakapan dan motivasi yang
dibutuhkan?
þ Kesiapan
finansial: Apakah organisasi memiliki sumber daya keuangan yang mencukupi?
Capacity
Building
Tinjauan naratif
terkini tentang kesiapan organisasi untuk transformasi kesehatan digital
mengidentifikasi lima tema utama yang harus diperkuat guna membangun kesiapan
yang komprehensif: kapasitas sistem, kapasitas organisasional, budaya dan
kepemimpinan, kapasitas sumber daya manusia, manajemen proyek, serta pelatihan
dan adopsi (Matthews & Burgess, 2025). Pengembangan kapasitas berfokus pada
penumbuhan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk menopang transformasi:
þ Pengembangan
kecakapan: Pelatihan dalam perangkat digital, analitik data, dan manajemen
perubahan
þ Kapabilitas
organisasional: Penguatan kemampuan manajemen proyek, manajemen perubahan, dan
tata kelola
þ Pengembangan
budaya: Memupuk budaya yang mendukung inovasi, pengambilan keputusan berbasis
data, dan pembelajaran berkelanjutan
Sustainability
Transformasi
digital merupakan sebuah perjalanan panjang, bukan sekadar satu peristiwa
sesaat yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia telah menetapkan arah transformasi digital kesehatan dalam
Cetak Biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024, yang menegaskan bahwa
tata kelola kepemimpinan yang efektif sangat diperlukan untuk meningkatkan transparansi,
akuntabilitas, dan pemantauan kemajuan transformasi (Kemenkes RI, 2024). Transformasi
digital adalah journey, bukan one-time event. Sustainability memerlukan:
þ Internalisasi ke
dalam budaya: Menjadikan praktik dan pola pikir digital sebagai bagian tak
terpisahkan dari "cara kami bekerja di sini"
þ Perbaikan
berkelanjutan: Tinjauan dan pembaruan berkala berdasarkan umpan balik pengguna
dan praktik terbaik yang terus berkembang
þ Pelatihan dan
dukungan yang berkesinambungan: Orientasi bagi tenaga kesehatan baru, pembaruan
saat sistem baru diperkenalkan, dan pelatihan penyegaran bagi tenaga kesehatan
yang sudah ada
þ Perayaan
keberhasilan: Mengakui dan merayakan kemajuan serta pencapaian untuk membangun
momentum transformasi yang berkelanjutan
RINGKASAN
MATERI
Manajemen
perubahan dalam digitalisasi kesehatan menuntut pendekatan yang sistematis dan
menyeluruh, mengintegrasikan perencanaan strategis, pelibatan pemangku
kepentingan, komunikasi yang efektif, pengembangan kapasitas, dan kepemimpinan
yang kuat. Model ADKAR menyediakan kerangka kerja yang telah terbukti efektif
untuk mengubah individu, yang pada gilirannya menjadi fondasi bagi transformasi
organisasi secara keseluruhan. Hambatan-hambatan, baik yang bersifat
organisasional, teknis, sumber daya manusia, budaya, maupun finansial harus
diidentifikasi secara cermat dan ditangani dengan strategi yang tepat sasaran.
Keberhasilan transformasi mensyaratkan dukungan pimpinan eksekutif,
kepemimpinan transformasional, dan asesmen kesiapan organisasi yang
komprehensif. Dengan komitmen yang teguh serta pendekatan yang terencana dengan
baik, organisasi layanan kesehatan dapat menavigasi transformasi digital dengan
sukses dan memetik manfaatnya berupa peningkatan mutu pelayanan pasien,
efisiensi operasional, dan keberlanjutan organisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abreu, M.,
Pereira, T., & Costa, L. (2025). Change management in hospital digital
transformation: Roadmap to promote the humanization and efficiency through
technology. SSRN. https://doi.org/10.2139/ssrn.5152675
Budiarto, R.,
Suryani, E., & Permatasari, D. (2024). Challenges in implementing digital
medical records in Indonesian hospitals. Proceedings of ICISTECH 2024. https://icistech.org/index.php/icistech/article/download/70/69/357
Cano, J. A.
(2024). How change management activates digital transformation in
healthcare. HealthManagement.org, 24(2). https://healthmanagement.org/c/healthmanagement/issuearticle/how-change-management-activates-digital-transformation-in-healthcare
Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cetak biru strategi transformasi
digital kesehatan Indonesia 2024. Kemenkes RI. https://oss2.dto.kemkes.go.id/artikel-web-dto/ENG-Blueprint-for-Digital-Health-Transformation-Strategy-Indonesia%202024.pdf
Kludacz-Alessandri,
M., Hawrysz, L., Żak, K., & Zhang, W. (2025). The impact of digital
transformational leadership on digital intensity among primary healthcare
entities: A moderated mediation model. BMC Health Services Research, 25,
117. https://doi.org/10.1186/s12913-025-12283-x
Matthews, J.,
& Burgess, K. (2025). Organizational readiness for digital health
transformation: A narrative literature review. Canadian Journal of
Nursing Informatics, 20(2). https://cjni.net/journal/?p=14795
Mazariego, C.,
Williamson, K., McCarthy, K., Gazzard, A., Stuart, K., Leon, S., Taylor, N.,
Rushton, S., & O'Brien, T. (2026). Driving statewide digital transformation
in oncology care: A change management case study using ADKAR methodology for
the implementation of patient-reported outcomes in cancer clinical care. JBI
Evidence Implementation. https://doi.org/10.1097/XEB.0000000000000559
Rachmadhani, F.,
Purwanto, H., & Sari, N. (2024). Challenges of digital transformation of
healthcare industry in Indonesia. Syntax Idea, 6(6). https://jurnal.syntax-idea.co.id/index.php/syntax-idea/article/view/3492
Savonia
University of Applied Sciences. (2025). Digital transformation in
health care and the role of change management. Savonia.fi. https://www.savonia.fi/en/articles/digital-transformation-in-health-care-and-the-role-of-change-management/
Tampubolon, R.,
Situmorang, M., & Hasibuan, Z. (2025). Analysis of success and barriers to
implementing health service management information systems (SIMRS) in
Indonesia: A systematic literature review. Jurnal Kesehatan, 14(2). https://ejournal.medistra.ac.id/index.php/JKG/article/view/3159
Tanrıkulu, F.,
& Terzioğlu, F. (2023). Digital transformation readiness factors in
healthcare. Hospital Topics, 101(4), 1–11. https://doi.org/10.1080/00185868.2021.2002745
Uduma, C.,
Nwosu, E., & Afolabi, B. (2026). Integrating transformational,
participative, and digital leadership for sustainable digital transformation in
healthcare organizations. International Journal of Social Science and
Management Research, 9(5). https://ijssmr.org/uploads2026/ijssmr09_05.pdf
World Health
Organization. (2021). Global strategy on digital health 2020–2025.
WHO. https://www.who.int/docs/default-source/documents/gs4dhdaa2a9f352b0445bafbc79ca799dce4d.pdf
Comments
Post a Comment