BAB II TEKNIK PENGORGANISASIAN ARSIP SECARA SISTEMATIS
TEKNIK PENGORGANISASIAN ARSIP SECARA SISTEMATIS
A. Sistem
Penyimpanan Arsip
Gambar 6. Sistem kearsipan RS yang efektif
1.
Sistem Abjad (Alphabetical Filing System):
penyusunan berdasarkan urutan A-Z
Sistem abjad merupakan sistem
penyimpanan arsip yang paling umum digunakan dalam berbagai organisasi karena
kemudahan dan kepraktisannya. Sistem abjad adalah salah satu sistem penataan
berkas yang menggunakan metode penyusunan berdasarkan abjad secara berurutan
dari A sampai dengan Z dengan berpedoman pada peraturan mengindeks. Sistem
penyimpanan arsip berdasarkan abjad biasanya menggunakan metode penyusunan
dokumen yang dilakukan secara berurutan, mulai dari arsip berawalan huruf A
sampai dengan Z dengan berpedoman pada peraturan mengindeks. Alphabetical
filing system adalah metode penyusunan dokumen arsip secara berurutan sesuai
abjad, mulai dari dokumen arsip yang berawalan huruf A sampai Z. Penelitian
Octafiani dan Suwarni (2020) mengembangkan instrumen penilaian berbasis HOTS
untuk mengukur pemahaman siswa tentang sistem penyimpanan arsip sistem abjad di
SMK. Dalam konteks rumah sakit, sistem abjad sangat cocok untuk penyimpanan
arsip berdasarkan nama pasien, nama dokter, atau nama supplier.
Implementasi sistem abjad dalam
pengelolaan arsip rumah sakit memerlukan pemahaman mendalam tentang aturan
pengindeksan nama. Sistem abjad umumnya dipakai untuk arsip yang dasar
penyusunannya dilakukan terhadap nama orang, nama perusahaan/organisasi, nama
tempat, nama benda dan subjek masalah. Nama-nama diambil dari nama si pengirim
untuk surat masuk dan nama alamat yang dituju untuk surat keluar. Alphabetic
filing system adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip berdasarkan
abjad yang dimulai dari huruf A-Z dan umumnya dipilih sebagai sistem
penyimpanan arsip karena dokumen sering dicari dan diminta melalui nama. Kode
abjad pada kode simpan surat diambil sama seperti kode indeks yaitu dua huruf
pertama pada unit pertama nama yang telah diindeks. Penerapan metode alphabetical
filing memungkinkan penelusuran yang lebih cepat dalam sistem pengarsipan
surat. Sebagai contoh, dalam praktik di RSU DM. Natsir, sistem penyimpanan
arsip berdasarkan sistem abjad di ruang kepegawaian sudah sesuai ketentuan meskipun
masih terdapat arsip yang tidak teratur.
Keunggulan sistem abjad menjadikannya
pilihan utama bagi banyak organisasi kesehatan dalam mengelola arsip pasien dan
administratif. Sistem abjad mudah dipahami dan diterapkan karena setiap orang
sudah familiar dengan urutan abjad, tidak memerlukan indeks tambahan karena
nama langsung menjadi kode penyimpanan, serta cocok untuk organisasi yang
sering berinteraksi dengan banyak pihak eksternal. Sistem abjad memudahkan
pencarian dokumen jika nama sudah diketahui dan tidak memerlukan pelatihan
khusus bagi petugas arsip. Sistem abjad menjadi sistem standar yang paling
banyak digunakan di berbagai instansi pemerintah dan swasta. Sistem abjad
memiliki kelemahan yaitu tidak memerlukan kartu indeks karena dalam kode surat
sudah diindeks, sehingga jika terjadi kesalahan indeks dapat menyulitkan
penemuan kembali. Dalam konteks rumah sakit yang mengelola ribuan rekam medis,
sistem abjad harus dikombinasikan dengan sistem penomoran untuk memastikan
akurasi identifikasi pasien.
2.
Sistem Nomor (Numeric Filing System):
penggunaan nomor sebagai kode klasifikasi
Sistem nomor merupakan metode
penyimpanan arsip yang menggunakan angka sebagai dasar klasifikasi dan penemuan
kembali dokumen. Sistem nomor menurut terminal digit adalah sistem penyimpanan
yang menggunakan kode penyimpanan dan kode penemuan kembali surat berdasarkan
sistem penyimpanan menurut terminal digit, yaitu sistem penyimpanan berdasarkan
pada nomor urut dalam buku arsip. Perlengkapan yang perlu dipersiapkan meliputi
filing cabinet 10 laci, guide (setiap laci 10 guide), dan folder (setiap guide
10 folder). Sistem nomor menggunakan angka sebagai kode klasifikasi yang dapat
berupa nomor urut sederhana atau sistem penomoran yang lebih kompleks. Dalam
beberapa sistem administrasi, terutama yang sudah terkomputerisasi, setiap
dokumen memiliki kode unik atau nomor identifikasi seperti INV-2025-001 untuk
faktur atau HRD-003 untuk berkas kepegawaian. Penelitian Armada (2023) tentang
penggunaan model explicit instruction pada sistem nomor menunjukkan peningkatan
kemampuan menyimpan arsip dari siklus I (67,6%), siklus II (80%), hingga siklus
III (90%). Dalam konteks rumah sakit, sistem nomor sangat penting untuk
pengelolaan rekam medis pasien dengan menggunakan nomor rekam medis (medical
record number) yang unik.
Penerapan sistem nomor dalam
organisasi kesehatan memerlukan prosedur yang sistematis dan terstandarisasi
untuk memastikan konsistensi penomoran. Contoh kode laci dalam sistem nomor
berurutan sebagai berikut: Laci 1 kodenya 000, Laci 2 kodenya 100, Laci 3
kodenya 200, dan seterusnya hingga Laci 10 kodenya 900. Untuk kode guide
berurutan: Guide 1 kodenya 000, Guide 2 kodenya 010, Guide 3 kodenya 020, dan seterusnya
hingga Guide 10 kodenya 090. Sistem penyimpanan arsip statis menggunakan sistem
nomor yang memudahkan dalam pelaksanaan dan penemuan kembali arsip. Perancangan
sistem informasi nomor surat keluar berbasis web dapat mengelola penomoran
surat keluar secara otomatis dan terstruktur untuk mengatasi masalah duplikasi
nomor surat. Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor yang sudah sesuai
ketentuan, namun masih terdapat masalah dengan penomoran yang sama pada nomor
surat. Untuk mengatasi hal ini, sistem informasi kearsipan digital sangat
diperlukan untuk memastikan keunikan setiap nomor yang diberikan.
Sistem nomor memberikan keunggulan
signifikan terutama dalam hal kerahasiaan dan kapasitas penyimpanan yang tidak
terbatas. Kelebihan sistem nomor meliputi kapasitas tidak terbatas karena nomor
dapat terus bertambah, lebih menjaga kerahasiaan karena nomor tidak langsung
menunjukkan identitas, serta memudahkan integrasi dengan sistem digital. Untuk
menemukan kembali arsip dengan sistem ini, dapat dilakukan dengan mencari kode
nomor arsip tersebut jika sudah diketahui, atau jika belum dapat dilihat pada
kartu indeks. Sistem nomor cocok untuk organisasi yang menangani volume arsip
sangat besar dan memerlukan sistem keamanan yang ketat. Gaya penyusunan
berdasarkan nomor cocok untuk pengarsipan yang sudah terintegrasi dengan sistem
digital karena setiap dokumen dapat dilacak menggunakan nomor referensi. Namun,
sistem nomor memerlukan kartu indeks sebagai alat bantu pencarian jika petugas lupa
nomor dokumen yang dicari. Dalam praktik di rumah sakit, sistem nomor sangat
efektif untuk mengelola rekam medis pasien, sistem penomoran surat keluar dan
surat masuk, serta pengelolaan inventaris peralatan medis.
3.
Sistem Tanggal/Kronologis: penyusunan
berdasarkan urutan waktu
Sistem tanggal atau kronologis
merupakan metode penyimpanan arsip yang mendasarkan pengorganisasiannya pada
urutan waktu penciptaan atau penerimaan dokumen. Sistem tanggal atau
chronologis adalah sistem penyimpanan arsip yang mengatur dokumen berdasarkan
urutan waktu. Sistem kronologis menyusun arsip berdasarkan tanggal, bulan, dan
tahun dokumen dibuat atau diterima, dengan dokumen terbaru biasanya diletakkan
di depan. Sistem tanggal digunakan untuk menyimpan dokumen yang diurutkan
berdasarkan tanggal dokumen itu diciptakan. Sebagai contoh, RSU DM. menerapkan
sistem penyimpanan berdasarkan tanggal yang sudah sesuai ketentuan, dimana
petugas mengatur arsip berdasarkan tanggal penerimaan. Sistem informasi
kearsipan dokumen dengan sistem penyimpanan abjad dan kronologis berbasis multi
user dapat meningkatkan efisiensi pencarian dokumen. Dalam konteks rumah sakit,
sistem kronologis sangat cocok untuk arsip yang memiliki nilai waktu penting seperti
laporan harian, hasil laboratorium, dan catatan perawatan pasien.
Implementasi sistem kronologis dalam
pengelolaan arsip kesehatan memerlukan pemahaman tentang hierarki waktu dan
konsistensi dalam pencatatan tanggalsistem penyimpanan arsip statis berdasarkan
sistem kronologi memudahkan penemuan kembali arsip berdasarkan periode waktu. Sistem
kronologis biasanya menggunakan format tahun-bulan-tanggal atau sebaliknya
tergantung kebutuhan organisasi. Penerapan chronology system dalam perancangan
sistem pengarsipan surat membantu dalam penelusuran dokumen berdasarkan periode
tertentu. Sistem tanggal cocok untuk dokumen yang sering dicari berdasarkan
waktu kejadian atau periode tertentu. Sebagai contoh, RSU M (2024) menghadapi
kesulitan dalam menemukan arsip ketika menggunakan sistem tanggal karena arsip
lama dan baru tidak dipisahkan dengan jelas. Untuk mengatasi masalah ini,
diperlukan pembagian arsip berdasarkan periode waktu tertentu seperti bulanan
atau tahunan dengan menggunakan guide yang jelas.
Sistem kronologis menawarkan keunggulan dalam hal kemudahan penelusuran dokumen berdasarkan periode waktu tertentu. Kelebihan sistem kronologis meliputi mudah diterapkan karena hanya berdasarkan urutan waktu, cocok untuk dokumen yang memiliki relevansi waktu seperti laporan keuangan dan surat menyurat, serta memudahkan audit dan evaluasi berdasarkan periode. Sistem tanggal yang diterapkan di Kasubag Kepegawaian Dinas Pendidikan memudahkan pencarian dokumen kepegawaian yang disusun berdasarkan tanggal. Sistem kronologis sangat efektif untuk organisasi yang mengelola dokumen dengan validitas waktu tertentu. Kombinasi sistem abjad dan kronologis dalam sistem informasi kearsipan berbasis multi user meningkatkan efektivitas manajemen arsip. Namun, sistem kronologis memiliki kelemahan yaitu sulit untuk mencari dokumen jika tanggal tidak diketahui secara pasti dan memerlukan kartu indeks untuk membantu pencarian berdasarkan nama atau subjek. Dalam praktik di rumah sakit, sistem kronologis sangat bermanfaat untuk pengelolaan catatan medis pasien yang memerlukan dokumentasi berdasarkan urutan waktu perawatan, laporan laboratorium harian, dan dokumentasi pemberian obat.
4.
Sistem Geografis: pengelompokan
berdasarkan nama tempat atau wilayah
Sistem geografis merupakan metode
pengorganisasian arsip yang mendasarkan klasifikasi pada lokasi, wilayah, atau
daerah geografis tertentu. Sistem geografis atau wilayah adalah sistem
penyimpanan arsip yang menyusun dokumen berdasarkan pembagian wilayah atau
geografis. Sistem geografis mengelompokkan arsip berdasarkan nama tempat, kota,
provinsi, atau negara, dimana dokumen disusun secara alfabetis berdasarkan nama
wilayahSistem geografis atau wilayah digunakan untuk penyimpanan yang disusun
berdasarkan daerah dokumen itu berasal atau dituju. Sistem penyimpanan arsip
yang efektif dengan menggunakan sistem wilayah dapat mempermudah penemuan
kembali arsip pada Kantor Pelayanan Pajak. Sistem temu kembali arsip statis
dapat dilakukan melalui kata kunci penelusuran berdasarkan nama wilayah. Dalam
konteks rumah sakit, sistem geografis dapat diterapkan untuk mengelola arsip
rujukan pasien dari berbagai puskesmas, klinik, atau rumah sakit di wilayah
geografis tertentu.
Penerapan sistem geografis dalam
organisasi kesehatan sangat relevan untuk pengelolaan data epidemiologi dan
program kesehatan masyarakat berbasis wilayah. Sistem geografis sangat cocok
untuk organisasi yang beroperasi di berbagai wilayah atau memiliki cabang di
berbagai daerah. Perlengkapan dan peralatan yang memadai sangat menunjang
proses pengarsipan menggunakan sistem geografis. Dalam sistem geografis,
dokumen dari wilayah yang sama disimpan dalam satu kelompok yang kemudian
diurutkan secara alfabetis. Sistem penyimpanan arsip statis yang menggunakan
kombinasi kronologi, subjek, dan nomor memerlukan klasifikasi wilayah untuk
memudahkan penelusuran. Dalam praktik rumah sakit rujukan regional, sistem
geografis memudahkan pengelolaan data pasien berdasarkan daerah asal,
koordinasi dengan fasilitas kesehatan di berbagai kabupaten/kota, dan pelaporan
data kesehatan per wilayah administratif.
Keunggulan sistem geografis
menjadikannya pilihan strategis bagi organisasi yang mengelola arsip dengan
dimensi lokasi yang kuat. Kelebihan sistem geografis meliputi memudahkan
pencarian dokumen berdasarkan wilayah, cocok untuk organisasi yang memiliki
banyak cabang atau area operasi, serta mendukung analisis data berbasis
wilayah. Sistem wilayah efektif dalam mempermudah penemuan kembali arsip dan
meningkatkan efisiensi kerja. Sistem geografis memudahkan koordinasi antar
cabang dan memfasilitasi pelaporan berbasis regional. Sistem geografis yang
diterapkan di Dinas Pendidikan membantu dalam pengelolaan dokumen dari berbagai
sekolah di wilayah yang berbeda. Penelusuran arsip menggunakan kata kunci
wilayah memudahkan identifikasi dokumen yang berkaitan dengan daerah tertentu.
Namun, sistem geografis memerlukan pemahaman yang baik tentang pembagian
wilayah administratif dan memerlukan update jika terjadi perubahan pembagian
wilayah. Dalam konteks rumah sakit, sistem geografis sangat bermanfaat untuk
program kesehatan masyarakat berbasis wilayah, pengelolaan rujukan berjenjang,
dan analisis pola penyakit berdasarkan distribusi geografis.
5.
Sistem Pokok Soal/Subjek: klasifikasi
berdasarkan topik atau masalah
Sistem pokok soal atau subjek
merupakan metode pengorganisasian arsip yang mengklasifikasikan dokumen
berdasarkan isi, topik, atau masalah yang dibahas dalam dokumen tersebut. Sistem
subjek adalah sistem penyimpanan arsip yang mengatur dokumen berdasarkan
perihal atau pokok isi surat. Sistem ini mengkelompokkan arsip berdasarkan
topik, masalah, atau kategori tertentu yang relevan dengan kegiatan organisasi.
Sistem subjek digunakan untuk penyimpanan berdasarkan isi dokumen. Kartu indeks
digunakan untuk sistem penyimpanan subjek sebagai alat bantu untuk menemukan
arsip. Dalam konteks rumah sakit, sistem subjek sangat cocok untuk mengelola
arsip berdasarkan jenis layanan seperti subjek bedah, penyakit dalam, anak,
kebidanan, atau berdasarkan program kesehatan tertentu.
Implementasi sistem subjek dalam
organisasi kesehatan memerlukan pembuatan skema klasifikasi yang komprehensif
dan sesuai dengan kebutuhan operasional rumah sakit. Sistem subjek memerlukan
pembuatan daftar subjek atau kategori yang jelas dan terstruktur, biasanya
dalam bentuk hirarkis dari kategori umum ke spesifik. Sistem temu kembali arsip
melalui klasifikasi arsip secara manual dan secara online menggunakan aplikasi
dengan kata kunci penelusuran subjek atau judul. Sistem subjek cocok untuk
organisasi yang mengelola berbagai jenis dokumen dengan topik yang beragam. Penerapan
sistem subjek memerlukan peralatan dan perlengkapan yang memadai untuk
menunjang proses pengarsipan. Kartu indeks dalam sistem subjek disimpan
berdasarkan nama orang/perusahaan sehingga susunannya diurutkan secara alfabet
untuk memudahkan pencarian. Sistem informasi kearsipan berbasis multi user
dapat mengintegrasikan sistem subjek dengan sistem lainnya untuk meningkatkan
efektivitas. Dalam praktik rumah sakit, sistem subjek memudahkan pengelompokan
arsip berdasarkan departemen medis, jenis penyakit, program kesehatan, atau
kategori administratif tertentu.
Keunggulan sistem subjek menjadikannya pilihan ideal untuk organisasi yang menangani berbagai topik atau bidang kerja yang kompleks. Kelebihan sistem subjek meliputi memudahkan pencarian dokumen berdasarkan topik atau masalah, mendukung pengelolaan dokumen yang beragam dalam satu sistem, serta memfasilitasi analisis dan penelitian berdasarkan kategori tertentu. Sistem subjek yang diterapkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan memudahkan klasifikasi dan penelusuran arsip dinamis. Sistem subjek sangat efektif untuk organisasi yang memiliki berbagai program atau layanan yang berbeda. Penggunaan kartu indeks dalam sistem subjek membantu petugas menemukan arsip meskipun lupa tentang judul/caption surat yang dipinjam. Sistem subjek yang diterapkan dengan baik dapat meningkatkan efisiensi kerja organisasi. Namun, sistem subjek memerlukan pemahaman mendalam tentang struktur organisasi dan memerlukan training khusus bagi petugas arsip untuk memastikan konsistensi klasifikasi. Dalam konteks rumah sakit, sistem subjek sangat bermanfaat untuk pengelolaan arsip medis berdasarkan spesialisasi, penelitian klinis berdasarkan topik tertentu, dan pengelolaan dokumen kebijakan berdasarkan area fungsional.
Comments
Post a Comment