1. B. Asas Pengorganisasian Arsip
Gambar 3. Prinsip pengorganisasian
arsip
1.
Asas Sentralisasi: penyimpanan arsip
yang dipusatkan di satu unit kerja khusus
Asas sentralisasi merupakan
pendekatan pengorganisasian arsip yang memusatkan seluruh kegiatan kearsipan
pada satu unit kerja khusus dalam struktur organisasi. Menurut Hazmi dan
Prasetyawan (2019), pada asas sentralisasi semua dokumen disimpan secara terpusat
dimana unit bawahan yang ingin menggunakan arsip/dokumen dapat menghubungi unit
kearsipan untuk mendapat izin dan menggunakan sesuai dengan keperluan yang
dimaksud. Asas kearsipan sentralisasi menggunakan asas satu pintu untuk
memudahkan dalam penelusuran arsip maupun dalam pengendaliannya. Dalam konteks
rumah sakit, penerapan asas sentralisasi berarti seluruh arsip dari berbagai
unit layanan seperti rawat inap, rawat jalan, laboratorium, dan farmasi
dipusatkan di satu unit kearsipan. Pengarsipan dilakukan secara terpusat untuk
meminimalisir terjadinya ketidakseragaman sistem dan memastikan pengarsipan
berada dalam tanggung jawab unit kearsipan dalam organisasi.
Penerapan asas sentralisasi
memberikan sejumlah keuntungan signifikan bagi manajemen arsip di rumah sakit.
Rahmawati (2014) menyebutkan manfaat asas sentralisasi antara lain mencegah duplikasi,
layanan lebih baik, adanya keseragaman, menghemat waktu, menghemat ruangan,
peralatan, dan alat tulis kantor, serta memungkinkan pengamanan yang lebih
terpadu. Kelebihan menggunakan asas sentralisasi yaitu adanya keseragaman
sistem dan prosedur, meminimalisir terjadinya arsip ganda, lebih efektif dan
efisien, pengawasan lebih baik, pelayanan lebih terorganisir dan lancar, serta
potensi arsip hilang lebih kecil. Penelitian Hazmi dan Prasetyawan (2019)
menunjukkan bahwa asas sentralisasi yang diterapkan di Sekretariat DPRD
Provinsi Jawa Tengah memberikan dampak positif dalam hal pengawasan arsip yang
menjadi lebih mudah karena pengelolaan secara satu pintu membuat arsip yang
tercipta lebih terkendali. Keuntungan lain adalah adanya keseragaman dalam
penanganan pendidikan dan pelatihan bagi pegawai serta pelayanan dokumen di
bawah satu atap.
Meskipun memiliki banyak keuntungan,
asas sentralisasi juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan
dalam implementasinya. Hazmi dan Prasetyawan (2019) mengidentifikasi kerugian
sistem sentralisasi meliputi kesulitan fisik, kebocoran informasi, berbagai
bagian mungkin mempunyai kebutuhan yang berlainan, adanya ketakutan akan
hilangnya dokumen, dan pemakai tidak langsung memperoleh dokumen bila
diperlukan. Kelemahan asas sentralisasi adalah ketika mengalami arsip yang
hilang maka dokumen akan benar-benar hilang karena sifat dokumen tidak dapat
diduplikasi. Sering terjadi ketidakcocokan untuk unit kerja dan memakan waktu
lebih lama dalam hal pengarsipan karena harus memenuhi serangkaian prosedur
peminjaman. Untuk organisasi rumah sakit yang memiliki gedung atau kantor
terpisah juga akan mengalami masalah lebih kompleks karena harus terpisah-pisah
dan semakin menyulitkan pelaksanaan pengarsipan. Dampak negatif lain adalah
menumpuknya arsip di unit pusat kearsipan dan temu kembali arsip yang memerlukan
waktu lama terutama jika tidak didukung sistem informasi kearsipan yang
memadai.
2.
Asas Desentralisasi: penyimpanan
arsip yang tersebar di setiap unit kerja
Asas desentralisasi merupakan
pendekatan pengorganisasian arsip yang menyerahkan pengelolaan dan penyimpanan
dokumen pada masing-masing unit kerja dalam organisasi. Menurut Hazmi dan
Prasetyawan (2019), pada asas desentralisasi pengelolaan surat yang masuk dan
keluar diserahkan pada satuan organisasi dimana setiap unit kerja bertanggung
jawab melakukan penerimaan, pencatatan, pendistribusian hingga pengiriman
surat. Pengorganisasian arsip secara desentralisasi/terpisah memungkinkan
setiap unit kerja mengelola arsipnya sendiri sesuai dengan kebutuhan spesifik
unit tersebut. Dalam konteks rumah sakit, penerapan asas desentralisasi berarti
setiap unit layanan seperti poliklinik, instalasi gawat darurat, ruang rawat
inap, dan laboratorium mengelola arsipnya sendiri. Sebagai contoh, LIPI Bogor
menerapkan asas desentralisasi bersama sentralisasi yang dikelola oleh tiga
unit yaitu Unit Pengelolaan, Unit Kearsipan I dan Unit Kearsipan II untuk
mengakomodasi kebutuhan yang berbeda.
Penerapan asas desentralisasi
memberikan sejumlah keuntungan operasional bagi unit-unit kerja di rumah sakit.
Rahmawati (2014) menyebutkan keuntungan asas desentralisasi antara lain dekat
dengan pengguna, sangat cocok untuk menyimpan informasi rahasia yang berkaitan
dengan sebuah bagian, dan hemat waktu serta tenaga dalam pengangkutan berkas. Kelebihan
asas desentralisasi adalah diolah oleh unit kerja yang sesuai dengan bidangnya
sehingga lebih cepat karena tidak mengganggu proses kerja dan karyawan memiliki
kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu kearsipan. Dari segi efisiensi
waktu, asas desentralisasi lebih menghemat waktu, penanganan dan menghemat
tenaga karena akses langsung tanpa melalui prosedur peminjaman yang berbelit.
Dalam praktik di rumah sakit, asas desentralisasi memungkinkan unit medis
mengakses rekam medis pasien dengan lebih cepat untuk keperluan pelayanan
kesehatan yang bersifat emergensi.
Kelemahan asas desentralisasi perlu
dipahami sebagai pertimbangan dalam memilih sistem pengorganisasian arsip yang
tepat. Hazmi dan Prasetyawan (2019) mengidentifikasi kerugian sistem
desentralisasi meliputi pengawasan yang relatif sulit dilakukan, banyak
duplikasi atas dokumen yang sama sehingga mengakibatkan pemborosan ruangan,
perlengkapan dan alat tulis kantor menjadi kurang efisien. Karena kegiatan
penyimpanan dokumen hanya menjadi salah satu fungsi dari tenaga administrasi,
maka layanan yang diterima kurang memuaskan.
Kelemahan asas desentralisasi adalah
seringkali terjadi ketidakseragaman prosedur ataupun standar dalam pengarsipan
dan pengawasan sulit dilakukan. Ketika unit kerja sedang sibuk dapat
menyebabkan penumpukan arsip di ruang kerja dan dari segi biaya juga lebih
boros karena setiap unit harus menyediakan sarana prasarana kearsipan sendiri.
Asas ini mengalami kesulitan pemberkasan berkaitan dengan dokumen yang relevan
dengan dua bagian atau lebih, tidak ada keseragaman dalam hal pemberkasan dan
peralatan, serta dokumen yang sama tersebar di berbagai tempat.
3.
Asas Kombinasi: gabungan antara
sentralisasi dan desentralisasi
Asas kombinasi atau asas campuran
merupakan pendekatan pengorganisasian arsip yang menggabungkan keuntungan dari
asas sentralisasi dan desentralisasi untuk meminimalisir kelemahan keduanya.
Menurut Hazmi dan Prasetyawan (2019), pada asas kombinasi masing-masing bagian
menyimpan dokumennya sendiri di bawah kontrol sistem terpusat dimana tanggung
jawab sistem berada pada puncak manajer dokumen atau petugas yang secara
operasional bertanggung jawab atas pengelolaan dokumen. Asas pengarsipan
kombinasi menggabungkan keuntungan dua asas sentralisasi dan desentralisasi
dengan harapan bisa meminimalisir terjadinya kelemahan dan kekurangan dari
keduanya. Dokumen yang disimpan pada masing-masing bagian lazimnya adalah
dokumen yang menyangkut kepegawaian, gaji, keuangan dan catatan keuangan. Dalam
konteks rumah sakit, asas kombinasi memungkinkan arsip medis disimpan terpusat
di unit rekam medis sementara arsip administratif unit layanan disimpan di
masing-masing unit dengan sistem kontrol terpusat.
Keuntungan penerapan asas kombinasi
menjadikannya pilihan strategis bagi organisasi rumah sakit yang kompleks.
Rahmawati (2014) menyebutkan keuntungan asas kombinasi yaitu adanya sistem
penyimpanan dan temu balik yang seragam, menekan seminimum mungkin kesalahan
berkasan serta dokumen yang hilang, menekan duplikasi dokumen, memungkinkan
pengadaan dokumen yang terpusat dengan imbas efisiensi biaya yang lebih baik,
serta memudahkan kontrol gerakan dokumen sesuai dengan jadwal retensi dan
pemusnahan. Keuntungan asas kombinasi mencakup proses kerja yang lancar, mudah
dalam pengendalian maupun pengelolaan, terjadi keseragaman prosedur dan sistem
kerja, serta proses kerja yang efektif dan efisien. Penerapan asas kombinasi
memberikan fleksibilitas dalam mengakomodasi kebutuhan spesifik setiap unit
kerja sambil tetap mempertahankan standar dan kontrol terpusat. Dalam praktik
di rumah sakit, asas kombinasi memungkinkan unit-unit medis memiliki akses
cepat terhadap arsip operasional sambil tetap terhubung dengan sistem manajemen
arsip terpusat untuk keperluan audit dan akreditasi.
Meskipun menawarkan solusi
komprehensif, asas kombinasi juga memiliki kelemahan yang perlu dikelola dengan
cermat. Hazmi dan Prasetyawan (2019) mengidentifikasi kerugian asas kombinasi
antara lain karena dokumen yang berkaitan tidak ditempatkan pada tempat yang
sama akan menyulitkan penggunaan dokumen yang dimaksud, kurang luwes karena
keseragaman di seluruh unit belum atau tidak ada, namun masalah-masalah
tersebut dapat diminimalisir apabila pengelolaannya dilakukan secara cermat dan
tepat.
Kelebihan asas kombinasi adalah
potensi terjadi duplikat pengarsipan lebih tinggi dan membutuhkan tenaga kerja
lebih banyak. Dari segi ruang, asas campuran membutuhkan ruang atau tempat yang
lebih besar/banyak dan beragam untuk mengakomodasi penyimpanan di berbagai
lokasi. Kompleksitas koordinasi antara unit-unit yang mengelola arsip sendiri
dengan kontrol terpusat memerlukan sistem informasi yang terintegrasi dan
komunikasi yang efektif. Implementasi asas kombinasi di rumah sakit memerlukan
investasi sumber daya yang lebih besar baik dari segi infrastruktur, teknologi
informasi, maupun pelatihan SDM untuk memastikan keseragaman prosedur di tengah
desentralisasi operasional.
Comments
Post a Comment